TAK GUNA TAHTA DI GUDANG HARTA
Di kiri dan kanannya para abdi tak henti-henti mengipasi Raja Loba, Penguasa Negeri Mekar Mayang, yang duduk di singgasana berlapiskan emas. "Hei, panggilkan Ponggawa setiaku!" kata Raja Loba kepada salah seorang abdi.
Tak berapa lama datanglah Ponggawa yang dipanggil abdi menghadap Raja Loba. "Hamba, Baginda. Apakah ada titah Baginda yang harus hamba laksanakan?"
"Hmmm… bagus kamu cepat datang! Antar aku memeriksa semua gedung-gedung kerajaan!"
Raja Loba diiringi Ponggawa berjalan mengelilingi pusat kerajaan. Sambil memuntir-muntir kumisnya yang sebesar lintah raksasa, Raja Loba memeriksa satu persatu gedung kerajaan.
"Hei, Ponggawa!"
"Ya, Tuanku."
"Tinggal satu gedung yang harus kuperiksa, tapi aku sudah letih, mau istirahat dulu di sini. Hai, Pongggawa, gedung khusus tempat menerima tamu kehormatan kerajaan sudah selesai dipugar?"
"Menurut Mandor Odang, tinggal finishing ngecat tembok taman-tamannya, Tuanku!"
"Bagus! Bilang sama Mandor Odang, rampungkan segera!"
"Baik, Tuanku."
Raja Loba 3-5 detik nyengir memperhatikan Ponggawa yang lincah balik badan dan berlalu dengan santun dan elegan. Tak lama ia telah kembali ke hadapan Raja Loba. Napasnya ngos-ngosan, keningnya basah oleh bulir-bulir peluh.
"Hai, Ponggawa."
"Hamba, Tuan."
"Dari sekian banyak abdi dalem kerajaan, aku hanya mempercayaimu. Aku nilai kamulah abdi yang paling loyal, total, dan profesional sehingga selalu sukses melaksanakan tugas-tugas kerajaan. Dan kinerjamu itu sungguh memuaskanku…" Raja Lomba manggut-manggut.
Ponggawa mengangguk-angguk, dadanya menahan bahagia dan bangga yang membuncah-buncah.
"Kini…" Raja Loba menahan napas, "ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Sesuatu yang sangat rahasia. Tak boleh diketahui siapapun. Bahka oleh permaisuri dan putri semata wayangku sekalipun. Paham!?"
"Pa… paham, Tuanku."
"Kita bicara di ruang sana saja!"
"Ya, Tuan." Ponggawa mengikuti Raja Loba menuju ruang khusus.
"Nah, di sini kita cuma berdua. Dengarkan! Sanggupkah kamu menjaga rahasia yang akan kusampaikan kepadamu?"
"Sa… sanggup, Tuanku."
"Bagus! Bagus! Hmmm… selain kerajaan yang megah, aku mempunyai harta yang mewah, jumlahnya melimpah, dan harganya wah, tak ternilai." Dada Raja Loba berdegup bangga.
Ponggawa mengangguk-angguk, dadanya turut berdegup bangga.
"Harta itu berupa emas, intan, permata, berlian, jamrud, keong mas, kepingan emas uang dinar dan dirham, batik akik purba, guci antik tiongkok, dan barang-barang kuno yang tak terhingga harganya. Kini harta tersebut kusimpan di gudang yang sangat rahasia di antara gudang harta paling rahasia. Tetapi akhir-akhir ini aku bisikan hatiku tak tenang. Aku mencium bau tak sedap pengkhianatan. Adik tiriku diam-diam berambisi mencopot mahkotaku, merebut singgasanaku, mencuri hartaku, memperistri istriku, dan menguasai kerajaanku. Maka, mulai saat ini kamu akan kuberi tugas istimewa, yakni menjaga sekaligus memelihara hartaku tersebut!"
"Hamba akan melaksanakan perintah Tuanku."
"Hmmm… bagus! Seminggu sekali kamu harus memeriksanya, lalu melaporkannya kepadaku!"
"Inggih, Tuanku."
"Kini, ikut aku ke gudang rahasia itu!"
"Baik, Tuanku."
Dibuntuti Ponggawa, Raja Loba berjalan menuju gudang harta rahasia. Melewati kebun temu lawak, belok ke kebun sirih, berputar di kebun kemangi, lurus ke kiri melewati kebun jahe, turun ke perigi, menyusuri jalan setapak, barulah keduanya sampai ke bukit kecil yang ditumbuhi belukar ilalang.
"Nah, inilah tempat yang kuceritakan itu." Raja Loba menunjuk goa yang di dalamnya di dalamnya dibangun ruang khusus untuk menyimpan harta.
Raja Loba membuka pintu gudang harta rahasia. "Ayo masuk!"
"Inggih, Tuan." Begitu msuk, Ponggawa takjub meliat harta benda yang melimpah ruah.
Sehabis mengelilingi gudang harta rahasia, Raja Loba mengajak Ponggawa masuk ke sebuah kamar khusus. "Kamar ini sengaja kurancang untuk tempat rehatku, bila sudah lelah melihat-lihat harta harta kekayaanku. Di dalamnya kusimpan koleksi ranjang antik, meja antik, kursi antik, lilin antik, kertas antik, pena antik, tinta antik, sprei antik, selimut antik, permadani antik, bokor antik, kasur antik, bantal antik, dan lain-lain yang antik-antik." Mulut Raja Loba tak mengatup ketika menciumkan pantatnya ke bibir ranjang.
"Nah, Ponggawa, kamu sudah tahu seluruh harta rahasiaku…" Raja Loba menilik-nilik wajah Ponggawa, Ponggawa menunduk.
"Kamu aku percaya untuk menjaganya. Ingat! Seminggu sekali, setiap hari Sabtu pagi, kamu harus memeriksanya. Camkan! Jangan ceritakan gudang harta rahasia ini kepada siapapun. Kalau sampai ada orang yang tahu, selain aku dan kamu, tiang gantungan menunggumu!" Mata Raja Loba menatap tajam Ponggawa yang gemetar ketakutan. "Paham!"
"Ya, Tuan."
"Laksanakan titahku ini!"
"Hamba akan melaksanakan titah Baginda."
"Kalau begitu, mari kita kembali ke kerajaan.
"Baik, Tuan."
***
Suatu hari Raja Loba pergi ke gudang harta rahasia. Dia mengecek satu persatu harta berharga miliknya. Meskipun sudah percaya kepada Ponggawa, tetapi benih curiga justru tumbuh di hatinya. Dia khawatir malah si Ponggawa sendiri yang mencuri hartanya tersebut. Selain dia, kini hanya Ponggawalah yang tahu gudang harta rahasia. Sementara seorang pejabat yang merancang, tiga pegawai yang bertugas mengumpulkan peralatan bangunan, dan empat pekerja yang mengerjakan bangunan gudang harta rahasia sudah mati begitu gudang harta rahasia tersebut jadi permanen.
Dalam acara jamuan makan malam perkawinan Raja Loba dengan selirnya yang ketujuh, Raja Loba membubuhkan racun pada makanan yang dihidangkan khusus untuk si pejabat.
Tiga orang pegawai dihukum gantung dengan tuduhan rekayasa: berkomplot mau menculik permaisuri raja. Tiga orang pekerja bangunan sengaja dibunuhnya dengan menggunakan begal bayaran. Satu orang lagi, setelah disekap, dilemparkan ke dalam jurang oleh prajurit suruhannya.
Sambil berkeliling bibir Raja Loba berdecak-decak kagum sendiri melihat kekayaannya yang melimpah ruah. Setelah merasa puas, Raja Loba menuju pintu untuk kembali ke pusat kerajaan. Tapi apa yang terjadi? Pintu keluar ruangan yang hanya ada satu-satunya itu telah terkunci rapat.
Tok! Tok! Tok! "Tolong buka pintu!" Tak ada yang mendengar. Tok! Tok! Tok! "Siapa yang mengunci pintu dari luar?" Tak ada yang menjawab. "Hai, siapa yang berani-berani mengunci pintu dari luar?!" Tak ada yang menyahut. "Tolooongngng…!!!" Sunyi sepi.
Rupanya sebelum Raja Loba masuk ke gudang harta rahasia, Ponggawa baru saja melaksanakan tugasnya. Tetapi tidak seperti biasanya, setelah mengecek gudang harta rahasia, seharusnya dia ke istana lebih dahulu untuk laporan ke kepada Raja Loba. Kali ini dia langsung kembali ke rumah, karena tidak tahun ingin segera bertemu istrinya. Maklum baru pengantin baru. Saking tak tahan ingin bermesra cengkrama dengan istrinya, dia sampai lupa menaruh kunci duplikat gudang harta rahasia.
"Mas, Sabtu ini kok siang-siang sudah pulang, biasanya sampai larut malam, kangen ya sama adik tercinta?" Istri Ponggawa menggeliat manja.
Tiba-tiba kening Ponggawa berkerut. "Oya, Dik?" Tiba-tiba Ponggawa teringat kunci duplikat gudang harta rahasia. Dia pun bingung, apakah kunci duplikat itu tertinggal? Pintu gudang harta rahasia sudah dikunci atau belum?
"Kok, mendadak resah, Mas?" tanya istrinya."Aku lupa menaruh kun… kun…" Ponggawa urung melanjutkan kata."Kun… kun apa, Mas?"
"Kun… kuncang, Dik?"
"Ah, biasanya Mas nyimpan uang di ikat pinggang, enggak pernah di kuncang."
"Dik, tadi aku beli kuncang untuk nyimpan uang, aku lupa naruhnya. Mungkin ketinggalan di tempat tugasku."
"Banyak uangnya, Mas?"
"Lumayan."
"Cepat cari, Mas! Nanti keburu ada orang yang nemu."
"Kalo gitu, harus segera, Dik!"
"Ya, Mas, cepat!"
Ponggawa segera berlalu. Tergesa-gesa kembalike gudang harta rahasia. Sepanjang jalan jantungnya berdegup kencang. Berulang-ulang menarik napas tegang. Terbayang olehnya tiang gantungan. Dia baru plong ketika sampai muka gudang harta rahasia, dilihatnya kunci persis berada di lubangnya. "Selamet! Selaaameet!" Ponggawa bungah.
Dari saking tegang lalu saking senang, Ponggawa kehilangan pikir panjang. Saking spaneng ingin segera bertemu dan bercumbu dengan istrinya (maklum, masih bulan madu) Ponggawa tak sadar kunci duplikat gudang harta rahasia terjatuh di kebun temulawak. Kini, ketika kembali ke gudang harta rahasia dan menemukan kunci di lubang pintunya, Ponggawa tidak sempat heran apalagi berpikir: mengapa kunci yang sudah dibawanya ada di lubang kunci? Maklum, orang tegang campur senang dalam satu tempo terkadang malah mendadak bingung dan linglung
"Celaka! Celaka! Celaka nasibku. Aduh, biyuuung… Raja Loba memukul-mukul jidatya.
Seharian Raja Loba menggedor-gedor pintu gudang harta rahasia. Percuma. Hingga jatuh lunglai. Detik demi detik, meneit demi menit, jam demi jam, hari berganti hari Raja Loba tersekap di dalam gudang harta rahasia. Tanpa makanan. Tiada minuman. Wajahnya memucat. Kondisi tubuhnya melemah. Perutnya buncit, pelan tapi pasti diserang busung lapar. Seminggu sudah, badannya tinggal tulang dan kentut. Tak mampun bertahan hidup. Terkapar di bawah pintu gudang harta rahasia. Mati. Membangkai. Dan membusuk.
Seluruh penjuru kerajaan gempar. Raja hilang. Tanpa jejak. Tanpa tapak. Tanpa kabar. Tanpa pesan. Tanpa pamitan. Tanpa permisi. Tanpa basa-basi. Tanpa wasiat. Tanpa ba bi bu. Karuan saja desas desis desus santer di seantero dalam kerajaan sampai luar kerajaan.
Keluarga kerajaan berduka. Setiap sudut negeri diselidiki dan diteliti. Seluruh kerabat raja diinterviu, siapa tahu di antara mereka ada yang menjadi musuh dalam selimut lalu diam menghabisi raja secara lembut. Para prajurit dikerahkan. Dana besar dikeluarkan. Segenap rakyat diwajibkan mengheningkan cipta. Umbul-umbul hitam dipasang di jalan-jalan dan gang-gang. Sayembara pun digelar: Barangsiapa yang menemukan raja dalam keadaan hidup atau mati akan diangkat menjadi pangeran sekaligus dikawinkan dengan dengan putri jelita sanga raja!
Sementara itu, Ponggawa adem ayem tentrem saja berdolan mesra dengan istrinya. Isu hilangnya sang raja jadi canda indah honey moon.
"Mas, raja kok betah amat sembunyi?"
"Kok, sembunyi? Hilang, Dik!"
"Apa sih bedanya hilang sama sembunyi, Mas?"
"Sembunyi itu sengaja tidak menampakkan diri, hilang itu tidak sengaja menyembunyikan diri."
"Ah, njelimet sekali sih, Mas. Aku jadi pusing."
"Kalo pusing, muter tujuh keliling!"
"Hihihi…" tawa istri ria Ponggawa.
"Hehehe…" balas tawa Ponggawa.
Sejenak, 3-4 detik, jidat istri Ponggawa berkerut. "Eh, Mas, biasanya tiap hari Sabtu pagi Mas punya tugas istimewa, kan?"
"Tugas istimewa?" Jidat Ponggawa turut berkerut. "Oya, Dik, jangan-jangan…?!"
"Jangan-jangan apa, Mas?" Istri Ponggawa heran campur penasaran.
"Cepat ambilkan baju dinasku, Dik!"
"Kok, buru-buru amat sih, Mas?"
"Waktu tugasku udah telat, Dik."
"Orang juga maklum, Mas. Kita kan pengantin baru."
"Iya sih, Dik, tapi cepatlah siapkan baju dinasku. Sebentar aku mandi dulu!" Ponggawa tergesa-gesa ke jamban di belakang rumah. Tak lama selesai mandi. Tanpa bicara langsung memakai baju dinas. Istrinya kecewa campur penuh tanda tanya, suaminya mendadak kehilangan selera mesra.
"Jangan lupa cari buah mojo, Mas!"
"Aduh, kalo ngidam yang normal aja, Dik. Masa pengen buah mojo, sih? Kan pahit dan bisa mabuk kalo dimakan."
"Bukan buat dimakan, Mas, buat bal-balan."
"Iya, deh. Mas pergi dulu ya, Dik."
"Inggih, Mas."
Istri Ponggawa lekat-lekat menatap kepergian suaminya. Seribusatu firasat melintas-lintas si seputar jaringan benaknya. Akhirnya, bisik hatinya membujuknya diam-diam membuntuti suaminya kemana pergi.
Ponggawa sudah tiba di gudang harta rahasia. Ketika mau membuka pintunya, tercium olehnya bau busuk yang sangat menyengat. Hampir saja dia muntah. Tetapi rasa penasaran cukup menahan isi perutnya yang sudah mendesak keluar sampai kerongkongnya. "Bau busuk sekali, dari mana asalnya?" bisik hatinya.
"Kaaakkk… Kaaakkk… kaaakkk…" Ponggawa terkejut, di atas rumpun pohon beringin burung-burung nasar berputar-putar.
"Burung pemakan bangkai?" Ada apa gerangan? Ah, jangan-jangan…"
Ponggawa mendorong pintu gudang harta rahsia. Tetapi sesuatu seperti mengganjal di bawah pintu. Bau busuk semakin menyengat. Dan…
"Rajaaa…" Ponggawa ambruk dan mati suri.
"Masss…" jerit istri Ponggawa sebelum turut mati suri.
Jeritan istri Ponggawa yang bergema terdengar jelas oleh Gembala yang sedang asyik meniup seruling di atas kerbau di tengah padang rumput, kira-kira dua puluh lima meter dari gudang harta rahasia yang sekilas seperti bukit kecil yang di atasnya dirimbuni rerumpun beringin. Tanpa tolah-toleh Gembala langsung lari menuju arah sauara suara jeritan. Tanpa diduga, tanpa dinyana, tanpa mimpi sebelumnya, dia melihat kondisi menyengsarakan di mulut gudang harta rahasia.
"Aku harus segera memberikan kabar kepada segenap orang kampung!" Gembala membalikkan badan dan lari menuju kampung.
Seluruh penjuru dalam dan luar kerajaan gempar. Raja Loba ditemukan dalam keadan mengenaskan, sudah menjadi mayat. Berduyun-duyun rakyat menuju gudang harta rahasia, tempat ditemukan mayat raja yang malang. Di dekat mayat raja tergeletak Ponggawa dan istrinya yang untung cuma mati suri, tidak mati murni.
Nasib Raja Loba tinggal mayat busuk. Tubuhnya dikerubungi belatung masih memakai baju kebesaran. Batok kepalanya yang sudah setengah tengkorak masih mengenakan mahkota. Mengenaskan. Emas, perak, intan, mutiara, berlian, jamrud, akik perba, kepingan dinar-dirham, gunci tiongkok, benda-benda serba antik tidak dapat menyelamatkan dirinya dari kelaparan dan kehausan yang berujung kematian. Mahkota sebagai tanda manusia "bekuasa" tidak bisa mendatangkan makanan dan minuman ke dalam gudang harta yang terkunci. Tak guna tahta di gudang harta.
Magetan, Juni 2007

No comments:
Post a Comment