.
Showing posts with label esai. Show all posts
Showing posts with label esai. Show all posts

Monday, September 9, 2019

9:05 AM

TUMPAHKAN KELUHAN “TIDAK BISA MENULIS” DENGAN TULISAN


Oleh Syukur A. Mirhan

Mengajar Pelajaran Menulis di Kelas Dauroh Hadits (Kelas 7 dan 8 Diniyah) dan Kelas Takhossus (Takhossus Minhaj 1-2 dan Umdah, tahun kemarin Fathul Qorib) memberikan pengalaman menarik bagi saya.
Pada tumpukan makalah atau karya tulis tahun pertama berupa jurnal diniyah atau kumpulan artikel ilmiah-diniyah yang dikumpulkan para santri saya mendapati sebuah tulisan yang unik dan menggelitik. Paragraf pertama tulisan tersebut diawali prolog (mukadimah): Pak Syukur, sebenarnya saya tidak bisa menulis karena... . Namun,  izinkanlah saya menuangkan syair-syair di bawah ini. Paragraf kedua, berisi untaian syair yang indah dan mengharukan. Paragraf ketiga atau penutup, berupa pesan atau lebih tepat permohonan dicarikan jodoh (calon istri).
Seraya mengernyitkan kening dan tersenyum-senyum saya merenungi tulisan unik dan menggelitik itu. Pertama, walaupun tidak memenuhi kriteria,  tulisan tersebut perlu mendapat apresiasi (penghargaan atau penilaian). Kedua, meskipun tidak memenuhi kriteria,  tulisan itu memberikan pelajaran penting kepada saya.
Tulisan tersebut perlu mendapat apresiasi (penghargaan atau penilaian) paling tidak karena dua alasan. Pertama, tulisan tersebut menunjukkan kepada saya bahwa santri yang menulis tulisan tersebut berusaha menunaikan kewajibannya menyelesaikan tugas akhir Pelajaran Menulis sebagai syarat kenaikan/kelulusan belajarnya. Kedua, tulisan tersebut menunjukkan kepada saya bahwa santri yang menulisnya tidak melakukan copas atau menjiplak karya orang lain semata-mata sekadar untuk mengumpulkan tugas dengan tujuan sing penting naik kelas/sing penting lulus dan sing penting bisa ikut wisuda.
Tulisan tersebut memberikan pelajaran penting kepada saya  bahwa sebenarnya walaupun dalam tulisannya dia mengungkapkan "tidak bisa menulis",  tulisannya mengisyaratkan sebenarnya dia mempunyai potensi "bisa menulis".
Dia menulis tentang mengapa dia tidak bisa menulis. Meskipun dia tidak bisa menulis, dia menuangkan alasan "tidak bisa menulis"-nya dengan tulisan yang terdiri dari kata, kalimat, dan paragraf. Mula-mula dia merangkai kata menjadi kalimat. Kemudian dia merampai kalimat menjadi paragraf. Selanjutnya dia menjalin paragraf menjadi teks. Jadilah tulisan yang isinya mengisahkan dirinya "tidak bisa menulis".
Dia menulis syair yang panjang sampai dua halaman. Apakah karena saking bingungnya "tidak bisa menulis" dia "harus banting stir" menulis syair? Perlu diketahui, menulis syair adalah salah satu keterampilan menulis. Berarti, sadar atau tidak sadar, dengan menulis syair dia sebenarnya punya keterampilan menulis.
Dia menulis curhat ingin dicarikan jodoh (calon istri). Dia mengisahkan umurnya, kerisauannya, dan cita-citanya ingin mempunyai istri yang sholihah  dengan menuangkannya lewat tulisan. Dia menggoreskan kata-kata supaya mengalirkan pikiran. Dia menorehkan kata-kata agar bisa mengalurkan perasaan. Dia menyampaikan kata-kata, kalimat-kalimat, dan paragraf-paragraf yang menjadi tulisan yang dapat meyakinkan pembaca (minimal diri saya).
Masyaalloh. Saya sendiri, barangkali, tidak akan bisa menulis tentang tulisannya kalau dia tidak mengumpulkan tulisannya meskipun tidak memenuhi kriteria sebagai karya tulis yang sesuai kurikulum. Tulisannya yang unik dan menggelitik justru mengilhami saya menuangkan catatan pendek ini. Artinya, tulisannya telah mendorong saya terus menulis.
Demikianlah, seseorang yang curhat "tidak bisa menulis" jika menuangkannya dengan "tulisan", maka dia jadi "bisa menulis" atau dengan kata lain, curhat "tidak bisa menulis"-nya itu bisa jadi "tulisan".
Di dalam atau di luar Pelajaran Menulis tidak bosan-bosan saya memberikan spirit atau motivasi kepada anak-anak kelas 7,8, dan kelas takhossus. Kalau terpaksa tidak bisa menulis, coba tuangkan "tidak bisa menulis" itu dengan "tulisan". Insyalloh! Semua akan bisa menulis.
Beberapa lama setelah acara Pertemuan Wali Santri saya bertemu dengan santri yang tulisannya saya kisahkan di atas. Kalau tidak salah, ketika dia mau mengantar adiknya mondok. Setelah menyalami saya dengan santun, dia bilang, "Alhamdulillah, Pak, saya sudah menikah!"
Seraya mengernyitkan kening dan tersenyum-senyum saya merenungi ceritanya. Belumlah saya carikan jodoh (calon istri), dia sudah menikah. Boleh jadi, berkah mengumpulkan karya tulis, salah satunya adalah mempercepat datangnya jodoh?! Siapa tahu? Wallahu'alam.

Abdul Syukur H. Mirhan, Guru Pelajaran Menulis di Program Dauroh Hadits dan Takhossus Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro

Photo by Luca Laurence on Unsplash


9:02 AM

SETTING MINIATUR MASYARAKAT MADANI


Dalam "Workshop Jurnalistik Islami sebagai Media Dakwah dan Pendidikan" (2008) di Temboro, Haikal Hira Habibillah (mantan Ketua
Forum Lingkar Pena Jawa Timur) dengan semangat memotivasi, teman-teman aktivis penulis Temboro sebenarnya punya modal suasana masyarakat islami untuk membikin karya sastra Masyarakat Madani. Karya sastra Masyarakat Madani, dalam bahasa saya, adalah karya yang menjunjung tinggi sendi-sendi Islam; yakni imaniah, ibadah, muamalah, muasyarah, dan akhlak dengan menghidupkan kembali ruh dakwah, ta'lim wa ta'lum, dzikir ibadah, dan khidmat Masyarakat Madinah pada zaman Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa salam.
Salah satu "laboratorium" utama Masyarakat Madani adalah pesantren. Maka, tidaklah heran, kaum pluralissekuleris-liberalis terus mengobok-obok "jeroan". pesantren, salah satu caranya dengan membuat karyakarya yang bertendensi mempluralkan, mensekulerkan, dan meliberalkan pesantren. Jelas, mereka pun ingin menjadikan pesantren sebagai "kelinci percobaan" masyarakat yang pluralis, liberalis, dan sekuleris. Yang mengherankan, karya-karya tersebut disadari atau tidak malah dilahirkan, dibidani, dibesarkan, atau diasuh kaum
Berlatar belakang santri tulen yang "ngelotok" muthalaah kitab kuningnya. Bukan jebolan sanlat (pesantren kilat) seperti saya yang "rontok" menelaah "kitab putih" alias buku umum. Namun demikian, tentu masih lebih banyak karya yang mempunyai spirit atau motivasi mempertahankan pesantren sebagai salah satu "laboratorium" masyarakat madani. Kebetulan dalam karya-karya tersebut terdapat setting pesantren dan tokoh santri sebagai protagonis (tokoh utama)-nya. Cerpen Surat dari Pondok untuk The Color Rock Back dalam kumpulan Cerpen Masih Cuma Bisa di Republik Mimpi karya Boim Lebon, seorang tokoh santri lewat suratnya menceritakan kehidupannya di Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro kepada teman-teman gank-nya semasa SMA di Tangerang. "Heroes: Pahlawan dari Jatinongol" karya Syukur A. Mirhan dan El Nafisa sebetulnya novel serial yang tokoh utamanya (akhirnya) berangkat ke Jawa Timur untuk mondok di Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro, meski secara samar penulis novel tersebut menyebutnya Pondok Pesantren Darussalam Timur Gunung Lawu. Teman-teman tokoh Ujang dalam Heroes yang bertemu di sebuah masjid di Bandung berasal dari pondok pesantren
yang sama dengan tokoh Aji dalam Surat dari Pondok untuk The Color Rock Back. Dalam Novelet Linang Cinta Madinah
Van Java, bahkan "terang-terangan" Syukur A. Mirhan dan El Nafisa mengambil latar Temboro dengan menyebut nama Temboro, bukan lagi Kampung Timur Gunung Lawu seperti pada karya-karya fiksi mereka sebelumnya. Mengapa penulis tiga buku fiksi tersebut tertarik mengambil Temboro sebagai setting karya fiksinya? Temboro baik sebagai setting realitas masyarakat Islami atau sebagai setting imajinasi fiksi Islami sangat menarik menjadi sampel setting miniatur Masyarakat Madani, bukan Masyarakat Madani yang "masih diskusikan" atau "masih diopinikan" dalam wacana-wacana. Meskipun secara arif, mereka pun menghormati, saudara-saudara mereka tentu saja mempunyai persepsi berbeda tentang Masyarakat Madani. Maka, Masyarakat Madani dalam karya sastra yang dicitacitakan masing-masing tentu saja format dan hakikatnya berbeda pula.
Masyarakat Madani yang dicitacitakan pluralis-sekuleris-liberalis tentu saja berbeda dengan Masyarakat Madani yang dicita-citakan aktivis dakwah yang tidak silau dengan "lipstik" universalisme, karena ia punya keyakinan terhadap: Rasulullah dikirim ke dunia sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam) dan tidak minder mengadopsi nilai-nilai universal Barat yang jelas-jelas meracuni nilai-nilai Islam. Wallahu'alam.

About

authorAssalamualaikum, nama saya Syukur A. Mirhan. Sekarang ini saya tinggal di Temboro, tautan sosial media di bawah ini.
Learn More →



QUOTES

“Pada akhirnya Cinta, Bukan kata Adalah” ― Syukur A. Mirhan