.
Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Monday, September 9, 2019

9:19 AM

PERAHU YANG TAK PERNAH MEMBUANG SAUH


Duhai yang merahasia, barangkali hanya ranum bunga jati
Dan guguran daun-daun trembesi yang bisa menafsiri
Seluruh deru dan gemuruh rasa yang ditsunami sunyi
Ketika rindu menggempa, menggetarkan tanjung hati

Duhai yang merahasia, mengapa tempias hujan pamungkas
Dari celah-celah jendela renta di timur belakang rumah
Menderas ke lembah  jiwa terdalam yang kian cemas
Bikin kangen yang tiada berperi istikomah membasah

Duhai yang merahasia, memang aneh sebuah kisah tanpa prolog
Namun lebih aneh lagi seumpama kisah itu tak pernah berepilog
Hingga Madinah van Java hiruk oleh anggrek merah jambu
Bergelantungan dan menjalar pada pilar-pilar relung kalbu

Duhai yang merahasia, pada akhirnya, ditandai guguran sajak
Pada sekian jalan, tikungan, tanjakan, pertigaan, dan perempatan
Sebelum seluruh latar dan alur menyempurnakan jejak
Perahu yang tak pernah membuang sauh di pelabuhan

pun segera kembali  menjarak

 : Melayari bentangan hening lautan
   Perasaannya sendiri yang rawan

Temboro, 2017

Photo by Craig Cameron on Unsplash

9:17 AM

PADA AKHIRNYA PUISI BERPULANG KEPADA PUISI Blues of Rehmanova


Demikianlah, Dik, pada akhirnya semua kembali niscaya
Engkau pun akan senantiasa bergegas menuju jalan utara
Sedang aku terus bersiap-siap berangkat ke arah tenggara
Mengemasi seluruh cerita yang kurampai dari serakan kata

Demikianlah, Dik, pada akhirnya engkau kembali merahasia
Sebab engkau hijab yang tak boleh siapapun menyingkapnya
Engkau masih kuntum kembang pada pucuk hijau tangkainya
Tak boleh gugur, karena musim semi itu belumlah lagi tiba

Demikianlah, Dik, pada akhirnya engkau pun akan beranjak Menghapus jejak-jejak, menempuh jauh jarak demi jarak
Sedang aku, tersipu-sipu, memunguti sendiri serpihan sajak
Yang berkisah tentang jalur-jalur janur ungu Temboro-Geplak

Demikianlah, Dik, bagai daun-daun tanggal dari ranting pohonan
Jatuh, gugur, luruh, dan hanyut terseret arus banjir kali trangkil
Dari hutan kecil tebing barat jembatan dan tepian bendungan
Luput dari alur hikayat Madinah van Java yang terus mengalir

Demikianlah, Dik, pada akhirnya puisi berpulang kepada puisi
Sedang engkau hanyalah seorang gadis fiksi negeri imajinasi
Tenanglah tenang, Dik, tak perlu resah pergi-pulang mengaji
Biarlah lelaki separuh abad ini menafakuri sesunyian sendiri

Temboro, 2017

Photo by Dikaseva on Unsplash



9:13 AM

SEBELUM KAU DAN AKU SENANTIASA JATUH CINTA DI MADINAH VAN JAVA


Tenggelam aku dalam banjir lamun

Hujan yang kian menderas di Madiun
Nafisa, airmatamukah yang belum tuntas
Membanjiri jalan hijrah yang kita retas

Nafisa, di Nambangan ada tembang lawas
Mengiang-ngiangkan kreteg-kreteg cemas
Suara hati kita tengah mengalunkan cerita
Bengawan duka meluap oleh bandang airmata

Dari Mangunharjo ke Jiwan ingatan berseliweran
Angin menerpakan lirih lirik-lirik perih kenangan
Menggumpalkan elegi silam kampung halaman
Mengentalkan kangen dalam tirai perasaan

Namun, Nafisa, seperti ikrar kita --19 tahun lewat
Bukankah kita tak akan naik kereta ke arah barat
Untuk mengembalikan luka ke negeri nostalgia
Sebelum kau dan aku senantiasa jatuh cinta

Di Madinah van Java

Madiun, 23 Januari 2015

Photo by Tyler Nix on Unsplash



Saturday, September 7, 2019

10:03 PM

SENANTIASA DI PEREMPATAN YANG SAMA

SENANTIASA DI PEREMPATAN YANG SAMA

Senantiasa di perempatan yang sama. Sendirian saja
Aku hanya bisa bercerita. Tentang bunga-bunga jingga
Tumbuh dari gemuruh rasa yang demikian asing
Dan tak terjemahkan oleh usia yang menua

Sementara engkau, duhai yang kian merahasia
Di perempatan yang sama. Istikomah seperti biasa
Kemarin, hari ini, dan waktu-waktu yang belum tiba
Menunduk ke jalan. Menyerahkan hati yang rawan

kepada Pemilik seluruh perasaan

Senantiasa di perempatan yang sama. Sendirian saja
Aku cuma mampu berkisah. Tentang sepasang kupu-kupu
beterbangan di pucuk kalbu. Di taman yang kubangun
dari rimbun daun waru. Madinah van Java merona ungu

Sedang engkau, duhai yang makin menghijab
Di perempatan yang sama. Istikomah seperti biasa
Mengusir desir-desir ganjil dari relung yang bening
Di kebun batin yang setiap hari kaurawat asri

dengan geletar wirid ayat hirzi

Temboro, 2017
                                    




Wednesday, March 30, 2016

9:09 PM

TAKZIAH NENEK REMBULAN, 2










TAKZIAH NENEK REMBULAN, 2


“Mengapa Mbah Buyut Langit menjerit tadi malam?”

Tanya komet yang tak ketahuan menguntit ikut 

takziah ke rumah duka, di reranting trembesi tua.



Mata Langit mendelik, kaget, tapi sedetik saja

Lalu matanya kembali sendu. Mulutnya membisu

Jiwanya dirundung duka dahsyat dan hebat. Semesta

Seperti hendak kiamat



“Apa yang terjadi dengan nenek rembulan, 

Mbah Buyut Langit?” Tanya meteor yang ujug-ujug

Mengekor.



Langit lekat-lekat menatap komet dan meteor

“Kemarin malam, Buyut  usir

Nenek Rembulan dari peredaran…” 

Kata-kata langit tersekat

Di tenggorokannya. 



“Emangnya kenapa, Mbah Buyut?”

Tanya komet dan meteor berbarengan.



“Buyut menyesal…” kembali kata-kata langit 

Tersekat di tenggorokannya.



“Menyesal gimana, Mbah Buyut?”

Komet dan meteor mendesak sopan.



“Kemarin lusa Nenek Rembulan minta izin,

Mohon satu malam saja membalas rindu si Pungguk.

Tentu Buyut muntab. Meski hanya semalam,

Buyut takkan setuju, hati Nenek Rembulan 

Tergoda si Pungguk yang berabad-abad 

Menantikannya tak tahu malu.



“Terus gimana, Buyut?” Komet dan Meteor karuan 

Penasaran, telinga keduanya melebar ke bawah 

Dan menjulang ke atas.



“Nenek Rembulan terus memaksa. Kali ini dia tak mau 

Mendengar titah Buyut. Buyut tambah muntab. 

‘Cukup sekali saja kamu boleh balas rindu si Pungguk. 

Setelah itu, jangan sekali-kali 

Kamu kembali kepadaku!’”



Kata-kata Langit bukan hanya tersekat 

Di tenggorokannya, tapi mengait dan

Menusuk tenggorokannya, seperti duri 

Ikan gembung mengait dan menusuk

Tenggorokan Mbah Supingah, tetanggaku

Yang hidup sebatangkara, tiga hari lalu…



Magetan, 2012
9:07 PM

TAKZIAH NENEK REMBULAN, 1



Di reranting trembesi tua. Nenek rembulan 

Tutup usia. Dalam pangkuan dan pelukan 

Si Pungguk bungkuk yang berabad-abad

Memikul cinta pertama yang tak kenal tutup mata



Jenazahnya dimandikan bebulir embun. Dikafani 

Guguran daun. Dishalatkan semilir angin. Ditahlilkan

Sendiri si Pungguk bungkuk yang berabad-abad

Memanjatkan doa setia yang tak pernah purba



Matahari dan bumi takziah. Matahari menunduk,

Sinarnya redup. Bumi berjilbab semuhitam,

Matanya sembab. Keduanya menerawang angkasa

Terkenang masa-masa kecil yang indah nian

Dolanan bersama nenek rembulan



Langit menjerit. Suaranya merobek jantungnya

Kakinya bergetar. Tiangnya bergoyang. Para planet

Berlarian ke balik peraduan. Satelit-satelit manusia, 

Terutama buatan USA, Rusia, Jerman, Prancis, dan China 

Belingsatan dari peredaran. Bima sakti pun sepi



Setelah dukanya agak reda, langit mengusap airmata

Diambilnya jubah, kerudung, dan kacamata hitamnya

Diiringi pelangi yang bajunya memasi, langit tiba 

Di rumah duka, reranting trembesi tua



Tetangga trembesi tua; waru, jati, mangga, dan palem 

Menggelar daun-daunnya untuk tikar selamatan. Langit 

Halus menolak, sungkan duduk. Langit tak enak hati 

Kepada pohonan yang rukun, santun, dan rendah hati 



Disuruhnya atmosfer menelungkupkan tubuhnya 

Untuk dijadikan permadani bagi para pelayat,

Pentahlil, dan penderes ayat-ayat. Ditatapnya haru 

Kaum burung dan serangga tadarusan 

Sepanjang siang dan malam



Diam-diam relung relung kalbunya 

Pun wiridan



Magetan, 2012










About

authorAssalamualaikum, nama saya Syukur A. Mirhan. Sekarang ini saya tinggal di Temboro, tautan sosial media di bawah ini.
Learn More →



QUOTES

“Pada akhirnya Cinta, Bukan kata Adalah” ― Syukur A. Mirhan