.

Wednesday, March 30, 2016

TAKZIAH NENEK REMBULAN, 1



Di reranting trembesi tua. Nenek rembulan 

Tutup usia. Dalam pangkuan dan pelukan 

Si Pungguk bungkuk yang berabad-abad

Memikul cinta pertama yang tak kenal tutup mata



Jenazahnya dimandikan bebulir embun. Dikafani 

Guguran daun. Dishalatkan semilir angin. Ditahlilkan

Sendiri si Pungguk bungkuk yang berabad-abad

Memanjatkan doa setia yang tak pernah purba



Matahari dan bumi takziah. Matahari menunduk,

Sinarnya redup. Bumi berjilbab semuhitam,

Matanya sembab. Keduanya menerawang angkasa

Terkenang masa-masa kecil yang indah nian

Dolanan bersama nenek rembulan



Langit menjerit. Suaranya merobek jantungnya

Kakinya bergetar. Tiangnya bergoyang. Para planet

Berlarian ke balik peraduan. Satelit-satelit manusia, 

Terutama buatan USA, Rusia, Jerman, Prancis, dan China 

Belingsatan dari peredaran. Bima sakti pun sepi



Setelah dukanya agak reda, langit mengusap airmata

Diambilnya jubah, kerudung, dan kacamata hitamnya

Diiringi pelangi yang bajunya memasi, langit tiba 

Di rumah duka, reranting trembesi tua



Tetangga trembesi tua; waru, jati, mangga, dan palem 

Menggelar daun-daunnya untuk tikar selamatan. Langit 

Halus menolak, sungkan duduk. Langit tak enak hati 

Kepada pohonan yang rukun, santun, dan rendah hati 



Disuruhnya atmosfer menelungkupkan tubuhnya 

Untuk dijadikan permadani bagi para pelayat,

Pentahlil, dan penderes ayat-ayat. Ditatapnya haru 

Kaum burung dan serangga tadarusan 

Sepanjang siang dan malam



Diam-diam relung relung kalbunya 

Pun wiridan



Magetan, 2012










No comments:

Post a Comment

About

authorAssalamualaikum, nama saya Syukur A. Mirhan. Sekarang ini saya tinggal di Temboro, tautan sosial media di bawah ini.
Learn More →



QUOTES

“Pada akhirnya Cinta, Bukan kata Adalah” ― Syukur A. Mirhan