PEREMPUAN BERKALUNG SARUNG
Ufuk bersemburat merah. Petang tinggal beberapa menit
menyerahkan tongkat hari ke tangan maghrib. Sepasang kelelawar bergandeng
terbang ke arah Ngawi, ikhtiar mencari buah-buahan. Budi, Jono, dan Joko
bersila di serambi Masjid Daarut Taqwa, menyempurnakan humor senja sambil
menanti waktu berbuka puasa.
“Jon, Jok, kalian tahu nggak, sebulan yang lalu paklikku
dipanggil gubernur lho, hebat kan!” kata Budi, ujung pesek hidungnya
menggelembung merah.
“Itu sih biasa, Bud. Minggu kemarin bapakku dipanggil
Presiden!” Seperti adatnya, Jono tak mau kalah.
Seraya mesem, Joko berkata kalem, “Itu tidak ada
apa-apanya, Jon. Kemarin lusa kakekku dipanggil Allah!”
Skack match! Jono dan Budi KO (kalah omong). Senyum
Joko ranum. Mulut Jono dan Budi kecut. Namun cuma sesaat, keduanya sama ceria
ketika terdengar dugh! dugh! dugh! suara beduk maghrib.
Allahu Akbar! Allaaahu Akbar! Suara serak-serak adzan
Poniran mengepilogi episode lapar dan dahaga, menandai dua kebahagiaan orang
berpuasa; kebahagiaan berbuka dan kebahagiaan (kelak) berjumpa dengan Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Poniran, yang ibadahnya serabutan seperti profesinya,
diangkat menjadi pejabat sementara muadzin Masjid Daarut Taqwa menggantikan
Mbah Tukimin yang cidera berat tertimpa buntut pesawat Herkules TNI AU yang
nyelonong landing di pinggir Desa Geplak.
Budi memandang sinis Poniran. “Kenapa sih Paklik Poniran
gak pernah punya pekerjaan tetap? Jadi kuli bangunan bosen, jadi blantik
sapi gagal total, jadi tukang bambu nyaris dijebloskan ke rutan, dan terakhir,
tega-teganya, child traffic…”
“Husss! Yang terakhir sih cuma akting aja, biar Juragan
Bagiyo gak enak-enakan ngerasain rejeki sendiri. Sebagai tetangga melarat,
sebenarnya Paklik berhak merasakan kekayaan. Nggak cuma ngerasain kepulan debu
yang disemburkan knalpot puluhan truk tebu Juragan Bagiyo yang saban hari
nyelonong nabrak pagar halaman rumah Paklik.”
“Kok caranya sampek akting jualan anak segala, Lik?”
tanya Joko.
“Iya, Lik, apa gak ada siasat lain?” imbuh Joko,
“misalnya, Paklik pura-pura sakit parah, terus sambil bawa si Gandul, Lik
Ponirah nangis-nagis minta tolong sama Juragan Bagiyo.”
Poniran tersenyum. “Katanya, macem-macem cara atau
segala pura-pura udah dibuat orang biar Juragan Bagiyo terenyuh dan nggelosorkan
duit dari kantongnya, tapi gak mempan. Juragan Bagiyo itu kebal tipu muslihat.”
“Kok bisa gitu, Lik?”
“Sebab beliau hapal di luar kepala ilmu dan praktek tipu
muslihat.”
“Ooo…”
“Assalamu’alaikum…"
Baru saja Poniran, Budi, Jono, dan Joko selesai
mengucapkan doa buka puasa dan ngemot sebiji kurma, seorang gadis
bergaya Izzatul Jannah, Ketua Umum FLP Pusat 2009-2014, berjalan
santun menuju serambi mushola.
“Dari si Mbah, Mang, eh, Lik!” ucap gadis berlogat Sunda
itu. Cukup singkat, namun memikat, menarik penasaran sarat. Seraya merunduk, si
gadis bergaun muslimah itu menyodoran serantang kolek pisang kepada Poniran.
Seperti kesasar ke dalam 1001 cerita cinta,
degdegan dada Budi, Jono, dan Joko merasakan aura turunnya bidadari yang tak
terlintas dalam otak dan tak terbetik dalam hati.
“Pasti dia Nurul yang patah hati oleh Fahri. Balik dari
Mesir, pulang ke tanah air untuk mengobati luka hati!” kreteg hati Budi.
“Sungguh dialah A Ling, gadis Tiongkok yang terjerat
cinta monyet si Ikal?” imajinasi Jono ngelantur.
“Seandainya bidadari sejati, pasti dia tak mau mandi di
kali, biar tidak bisa diintip Jaka Tarub, apalagi dicuri bajunya!” lamunan Joko
melayap ke kisah silam.
“Istighfar! Istighfar! Istighfar! Kesan pertama begitu
menggoda, selanjutnya lupa mengunyah kurma!” guyon Poniran membuyarkan gemintang
khayalan Budi, Jono, dan Joko.
Budi, Jono, dan Joko kompak tersipu malu, ranting hati
tiga sekawan ini terkait pesona akhwat yang berbusana ala Asma Nadia di
majalah Annida.
Kuatir terdengar kedua karib kentalnya, lirih-lirih Budi
bertanya kepada Poniran yang kebetulan dekat di sampingnya, “Lik, siapa cewek
barusan?”
Poniran mesem, malah balik bertanya, “Cewek yang
mana?”
Budi gemas, pelan-pelan berbisik, “Cewek yang ngasih
kolek pisang.”
“O diaaa…” kata Poniran, nadanya tinggi.
Karuan saja suara Poniran mengundang penasaran Jono dan
Joko, mata kedua si Budi itu berkedip-kedipan.
“Sttt… jangan keras-keras, Lik!” cegah Budi, “Heup!” Budi
ngaplok mulutnya sendiri.
So pasti, bikin tambah penasaran Jono dan Joko, keduanya
berbalas mulut monyong.
“Jangan egois, Bud!” omong Poniran, “informasi tuh gak
boleh dimonopoli. Informasi tuh hak milik publik. Biarlah publik transparan
mengonsumsinya. Ini bukan jaman bagi-bagi beras, tapi jaman bagi-bagi kompor
gas!” Tak terduga, omongan Poniran
nyasar, menohok ulu malu Budi.
Secepat otak Newton, Budi memutar akal. “Jadi, malam
takbiran nanti anak-anak RT 02 mau pawai obor, Lik?” bilangnya mengalihkan tema
tipuan.
Jono dan Joko menutup mulut, melindungi tawa geli di
balik jemari. Hihihi…
“Gini aja,” Poniran lekat-lekat meneliti gurat muka Budi,
Jono, dan Joko, “daripada kowek-kowek iki nanya perindividu, dan Paklik
harus berkali-kali jawabnya, tidak efektif dan efesien. Mending nanya secara
kolektif, gimana?”
Muka Budi merah jambu busuk, seperti cowok yang menerima
kembali surat cintanya sendiri tanpa dibaca cewek yang ditaksirnya. Sementara
ekspresi Iwan dan Ucup tak luput klamas-klemes seperti nasi rames
kesiram es.
“Nanya apa, Lik?” Iwan kura-kura pergi tamasya,
pura-pura tak ngerti tanya.
“Iya, Lik?” susul Joko, seolah-olah tak tahu duduk
perkara, tapi ngerti berdiri perkara.
“Ada udang di balik batu, keliru pandang kejedot pintu!”
Gurindam Poniran, bikin tiga sekawan gregetan.
Qatqamatishalah…Qatqamatishalaaah…! Sebelum Poniran mengangkat mulut, si Midun nyelonong
iqamat. Haji Mujaer, imam Masjid Daarut Taqwa sudah datang. Budi, Jono, dan
Joko terpaksa menelan penasaran ke dalam relung hati mereka yang berdesir
disemilir perasaan asing dan aneh. Shalat maghrib tak khusyuk, ingat gadis
pembawa serantang kolek. Kesan pertama membuat gemega langit negeri Syaikh
Mageti bak semarak bebunga di taman cakrawala.
Ba’da taraweh, masih di
sudut kiri serambi Masjid Daarut Taqwa. Bagai murid di depan resi, Budi, Jono,
dan Joko menunduk khusyuk di hadapan Poniran. Jeroan dada ketiganya serseran
hebat menanti info penting yang mengalir dari pria pecandu rokok Ting Wek
atau linting dewek itu. Sepatah kata tentang gadis yang tiba-tiba
menghiasi detik-detik buka puasa bersama hari ke-17 tadi itu menjadi lebih
penting daripada BLT alias bantuan langsung tunai.
“Namanya Maryamah…” ucap Poniran serak-serak lirih.
“Maryamah…” gumam Budi, Jono, dan Joko berbarengan.
“TK-nya di Maospati. Waktu SD Dibawa orang tuanya
merantau ke Tangerang. SMP-nya disekolahkan Pakdik-nya di Sukabumi. Melanjutkan
SMA sambil kerja di Cianjur. Terus masuk SMKI Bandung. Lantas ngelanjutin ke
UPI Bandung. Dan, kini bek to netur…”
“Back to Nature?” koor Budi, Jono, dan Joko.
“Yes!”
“Kembali ke alam?”
“Bukan, balik ke Nenek Turmini hihihik...” Poniran sulit nyetop
nyengir.
“Ooo..” Budi, Jono, dan Joko kompak berOoo…monyong.
“Gadis Jawa yang berkembang jadi mojang priangan itu
pernah ke melanglang ke Asia Tenggara, Jepang, Korea, Tiongkok, Australia, dan
pokokya ke mancanegaralah. Sayang dia gak kenal Asma Nadia, kalo kenal pasti
diajak ngisi Jilbab Traveler!” kata Poniran, sembari mengumbar asap apek rokok Ting Wek-nya.
“Ck! Ck! CK!” Budi, Jono, dan Joko kompak berdecak,
kagum mendengar prestasi hebat gadis yang membuat mereka tak sabaran menanti
lebaran tiba. Apa hubungannya, ya?
“Tahu, gak, gimana ceritanya dia bisa melancong ke
berbagai negeri di belahan dunia?” pancing Poniran, karuan bikin Budi, Jono,
dan Joko geleng-geleng bengong.
“Bermula dari suka kecapi!”
“Bermula dari suka kecapi?” tiga jejaka yang berjuluk
Trio Jomblo tercengang.
“Aku aja suka apel, gak bisa ke luar negeri!?” seloroh
Iwan.
“Apalagi ente, Din! Suka pete, mana mungkin bisa ke luar
negeri!” sindir Ucup.
“Eh, jangan ngejek, Cup. Kakekku yang suka jengkol bukan
cuma bisa ke Arab Saudi, juga bisa naik haji!”
“Husss! Bukan buah kecapi maksudnya, tapi musik kecapi!”
tegas Poniran.
“Ooo…” kembali trio sekawan berOoo.
“Eh, tahu gak?” Poniran lekat-lekat serius menatap roman
Trio Jomblo, “tiap malam, aku sering dengar Neng Maryamah memainkan musik
kecapi, diiringi seruling, nembang
cianjuran, kadang diselingi nasyid Sunda Islami gubahannya sendiri. Sahdu
sekali menyejukkan hati…” Poniran merem melek, mengelus-elus dadanya yang
piano.
Usai mendengar kisah gadis Jawa bergaya Sunda --yang
istiqamah tiap tahun menjuarai lomba deklmasi puisi “Aku” Chairil Anwar pada
agustusan itu-- selera sahur si Budi menurun drastis, kecuali kalau makan nasi
ketan ditaburi goreng bawang yang diaduk paha ayam. Sedangkan Jono tak mau
keluar kamar, seharian cuma ngucek-ngucek kertas pink dan membuangnya
sampai berceceran di lantai kamarnya, berbaur dengan rongsokan barang servis
elektroniknya. Joko yang punya obsesi memperganteng muka tiap hari diinterogasi
Mbak Yayuk gara-gara suka memporak-porandakan alat-alat kecantikannya.
“Seperti si Ikal yang pantang menyerah belajar biola kepada
Maryamah Karpov, demikianlah aku pun tak akan menyerah belajar kecapi kepada
Teh Maryamah!” angan-angan Budi,
cengar-cengir kepada cermin. Bagai detektif Betawi menyelinap lewat dapur,
keluar rumah, meninggalkan Emaknya yang tertidur memeluk bantal dan remote TV
di alas tikar.
“Jaga jarak! Jangan sampai siapapun dari Trio Jomblo
itu curiga kita menguntit mereka. Tahan bersin, batuk, nguap, kentut, geli,
tawa, dan lain-lain sebagainya! Siapkan musiknya!” komando Poniran kepada Bolo
Kolong Beduk, julukan kepada si Dulloh, Hafid, Sarmin, Suudi, dan Tarom
yang hobi tidur di bawah beduk Masjid Daarut Taqwa. Mereka suka bantu-bantu
Poniran, bersih-bersih masjid. Kontras dengan Trio Jomblo yang memperlakukan
Masjid Daarut Taqwa sebagai pangkalan ngorok sehabis nonton Liga
Inggris, Liga Spanyol, atau Liga Italia.
Ba’da taraweh, 18 Ramadhan. Di serambi rumah panggung,
seorang perempuan berkalung sarung, berbaju gombrang, berjilbab panjang duduk
elok bak mojang priangan emok atawa duduk penuh etika. Di atas tikar
sederhana, bukan permadani persia. Anggun dan santun. Duduk di belakang alat
musik kecapi. Rembulan dan gemintang pun berseri, komunitas kodok toleransi,
tak mau bikin orkestra kungkangkong.
“Punten, Teh Maryamah, seperti si Ikal yang ingin
belajar biola kepada Maryamah Karpov, demikianlah Mas Budi ingin belajar kecapi
kepada Teh Maryamah…” Lutut Budi pegal, linu, dan gemetar duduk tawaruk
di samping kanan punggung wanita berkalung sarung itu.
Sedamai mungkin perempuan berkalung sarung itu pelan
berdiri. Kepala Budi merunduk, melirik pun tak sanggup. Tiga jerawat di pipinya
merah matang, seperti siswa SMP kena virus cinta beruk.
“Mas Budi…” Lirih sejuk perempuan berkalung sarung itu
menyebut nama Budi.
Seperti Majnun dihampiri Laila yang keluar dari kemahnya,
seribu satu kebahagiaan Budi membuncah-buncah.
“Mas Budi…”
Jantung Budi bertalu-talu, pelan-pelan kepalanya
mendongak, dan …
Plok! Plok! Plok!
Merah pedaslah pipi Budi, seperti ditampar Pendekar Kera
Sakti.
“Mbah Turmini!?”
Plok!
Ngacirlah Budi.
Maryamah Kaplok!
Maryamah Kaplok!
Maryamah Kaplok!
Dipimpin dirigen
Poniran, berjingkrak-jingkrak semarak Bolo Kolong Beduk memainkan konser
musik amburadul, mengiringi Budi yang mengambil langkah seribu membawa sejuta
malu.
“Seuntai tembang Jawa gubahanku sendiri kan kuselipkan di
dawai kecapi Teh Maryamah. Sejenak Teh Maryamah
tertegun, menatap lembaran tembangku itu. Jemarinya gemetar membukanya.
Berkaca-kaca membacanya. Mendekapnya di dada. Linang matanya berkilau disinari
lentik pucuk nyala lampu taplok Mbah Turmini. Klimaksnya, dengan melodi tangis
dan gerimis serta sepenuh perasaan ia melantunkan tembang tresnaku huhuhu…”
khayal Jono. Menggulung secarik kertas, menyelipkannya ke sela-sela lipatan
sarungnya, diam-diam pergi lewat jendela kamarnya, tak mau mengusik ngorok
bapaknya yang kepalanya terbungkus Radar Madiun lawas.
Ba’da Taraweh, 19 Ramadhan. “Teh Maryamah, bila Teteh
usai melantunkan tembang ini, letakkan kecapi itu di serambi rumah ini. Dengan
dinding dada bergetar hebat biarlah
diam-diam Mas Jono selipkan secarik bait tembang tresna gubahan Mas Jono sendiri…” Berjingkat di
balik pagar serambi rumah Mbah Turmini, tangan kiri Jono membentang, tangan
kanannya mendekap secarik kertas ke dadanya. Gayanya
kolaborasi gaya biduan India, penyanyi dangdut Indonesia, dan pemain reog
Ponorogo.
Tak terdengar tingtengting denting kecapi. Sunyi. Namun
gemuruh dada Jono lebih hingar bingar daripada konser musik heavymetal. Tangan kanan perempuan berkalung sarung melambai. Jono
pelan-pelan namun elegan menghampirinya.
Plok! Plok! Plok!
“Mbah Turmini?”
Merah lebamlah wajah Iwan.
Plok!
Kaburlah Iwan.
Maryamah Kaplok!
Maryamah Kaplok!
Maryamah Kaplok!
Semarak ria Bolo Kolong Beduk menari-nari
mengikuti irama musik awut-awutan.
“Alon-alon
asal kelakon? No Way! Lebih cepat
lebih baik! Jangan sampai si Budi dan si Jono keburu jadi kumbang dan terbang
menggoda kembang Maryamah!” Sudah dua jam Joko berdandan model Ustadz
Uje, tak kapok mencuri kaca hias Mbak Yayuk meski berkali-kali diinterogasi.
Ba’da taraweh, 20 Ramadhan. Joko menarik karet ban kunci
pagar bambu halaman rumah Mbah Turmini. “Lebih cepat lebih baik!”
Tetapi dahsyat,
secepat kilat sandal jepit butut mengecup pipi Joko dengan kekuatan 170 km/jam.
Akibatnya, Joko terhuyung lalu jatuh menimpa pagar bambu. Brak!
“Aaa… mpun… Mbah…Tur…mini!”
Plok!
Maryamah Kaplok!
Maryamah Kaplok!
Maryamah Kaplok!
Di atas gundukan pasir di depan rumah baru yang belum
jadi milik Pak Yadi, Bolo Kolong Beduk berajojing lincah menggelar
konser musik sembarangan.
“Makanya,
ente-ente harus kudu!” mukadimah Poniran, begitu personil Trio Jomblo
lengkap berkumpul di serambi Masjid Daarut Taqwa, menanti buka puasa hari
ke-21.
“Harus kudu?” tanya Budi, sengit.
“Kudu piye?” Jono ikut-ikutan.
“He-eh, Lik?” Joko tak
ketinggalan.
“Kudu ngaca!” tegas Poniran.
Dalam geram Budi, Jono, dan Joko menahan geli campur
gengsi.
Poniran tersenyum enteng. “Mbah Turmini ajah gak mau naksir kowek-kowek,
apalagi Teh Maryamah hehehe…!”
Mata Budi redup, muka Jono muram, mulut Joko kuncup.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam…”
“Mas Ran, ini koleknya!”
“Matur suhun, Mbak.” Poniran menerima rantang
kolek dari Perempuan Berkalung Sarung.
“Pareng.”
“Oya, Mbah...” sapa Poniran, sebelum Mbah Turmini balik
kiri, “kok, gak Teh Maryamah yang nganterin tajil?” tanya Poniran iseng-iseng.
Perempuan yang istiqomah Berkalung Sarung itu sedikit
melirik Budi, Jono, dan Joko. “Si Iyam takut nganterin tajil ke
masjid...”
“Takut kenapa, Mbah?” Poniran justru penasaran.
“Takut ngurangi pahala puasanya... ”
“Ooo...” Poniran manggut-manggut, tak lupa nyengir.
Dugh! Dugh! Dugh! Beduk maghrib, waktu berbuka tiba.
Budi, Jono, dan Joko cuma menelan sebutir kurma. Cinta bikin tak enak
segalanya. Sejuta kecewa menelikung jiwa Trio Jomblo.

Nisa Sabyan apa cukup mirip dengan Neng Iyam?
ReplyDelete