KESUNYIAN HATI (CERBUNG DIARY BIDADARI, 1)
Udara yang masih basah disemaraki manuk sriti yang melesat, meliuk, menukik, dan berkelit-kelit lincah dari pepanah gerimis. Melayang-layang rendah pada bibir kolam, dan dengan sayap-sayap mungilnya, laskar manuk alit itu menyisir angin semilir. Oh betapa indahnya hari mereka. Betapa bahagianya hidup mereka.
Ahad senja. Baru saja berlalu hujan deras. Termenung aku. Sendiri. Sesunyian merubungi halaman rumah yang luas. Mengigigil perdu-perduan, rerumputan, bebungaan, dan tetanaman hias.
Memandang kehijauan menghampari bumi, mataku menyendu. Dalam tatapanku, rona roman buana mengelabu. Di serambi pavilyun, aku perempuan ngungun.
Seharusnya berbahagialah diriku kini sebagaimana burung-burung sriti itu. Semestinya hatiku menikmati lanskap ini. Mengapresiasi karya seni ilahi. Mengilhami lahirnya seribu satu diksi. Seribu satu diksi yang akan kutuangkan menjadi rampai-rampai puisi. Namun, hanya sediksi yang lahir dari rahim inspirasi: Sunyi. Sunyi yang kian melumuti sansai hati.
Lengkung pelangi menyangga pinggang langit. Merah, kuning, dan hijau melukisi ufuk. Meski sekilas, cakrawala pun terhias. Dari bilik gemawan berarak matanur mentari mengintip sejenak.
Senjakala senantiasa mengedar tetanda. Sedang aku tak kuasa mengudar makna. Sebab langit jiwa digemega dukana. Segala rasa terpenjara lara.
Setiap kali gelap merayap, senyap pun mendekap. Di sudut hati, sepanjang musim bumiku sunyi. Pelita hidup yang tertiup sepi pun meredup.
Malam pun merambat. Jika tiba, demikian cepat. Jika pergi, begitu lambat. Sepertinya malam sungguh betah menyahabat. Berkarib-karib seakan tak ingin raib. Dekat-dekat senantiasa merapat. Bahkan melekat dalam pikiran dan perasaan mampat.
Nyaris saja aku terjerat. Terperangkap maksiat. Namun, alhamdulillah, obor jiwa masih mencahayai akal sehat. Dengan rahmat-Nya, aku mengharap terlepas dari goda yang selalu siap menyandera. Aku memohon terbebas dari dosa yang senantiasa siaga mendera.
Seharusnya hidupku berbunga rasa bangga. Dari sekian saudara, sekian teman kuliah, sekian perempuan, dan sekian warga di kampungku, aku termasuk orang yang mujur dengan kehidupanku yang mapan pada masa karier yang terbilang dini.
"Kurang apa Teh Hana...?!"
"Pendidikannya tinggi..."
"Udah doktor tea..."
"Iya, kaya lagi..."
"S3-nya aja di UI...!"
"Kuliahnya aja naek pesawat ke Jakarta!"
"Bisnisnya juga sukses..."
"Plus cantik padahal...!"
"Iya, Agnes Monica aja lewat dech...!"
Hampir tiap hari kudengar percakapan empati dari Mang Ipin dan Kang Dindin di sela-sela kesibukan keduanya mengelola home industri layang-layang dan benang gelasan.
Enam belas tahun lalu, tepatnya tahun 1998, aku berhasil menyingkirkan ratusan bahkan ribuan pendaftar CPNS di wilayah propinsiku. Sudah hampir dua dasawarsa kehidupanku mengalir bagai banyu bengawan yang tak pernah surut. Pendapatanku yang berprofesi guru PNS bersertifikat pendidik dan pebisnis kuliner terbilang lebih untuk seorang wanita lajang seperti diriku.
Sedikit demi sedikit. Lama-lama menjadi bukit. Perlahan-lahan aku bisa mewujudkan impian-impianku. Impian untuk berdikari. Impian hidup mandiri. Impian memiliki rumah sendiri. Impian mempunyai kekayaan sendiri. Impian mempunyai kendaraan sendiri. Dan bisa berdandan dengan aneka perhiasan berharga tinggi.
Impian-impian itu bukan sekadar khayalan atau angan-angan seorang Guru PNS yang kebingungan bagaimana uang pelicin yang dulu jor-joran dikeluarkannya agar dirinya menjadi Guru PNS bisa kembali secepatnya atau kembali modal sebelum pensiun. Impian-impian itu kini benar-benar nyata. Belum lagi segudang prestasi yang kuraih. Tentu hal itu seharusnya membuat bungahku membuncah-buncah.
Namun, tidak bagiku! Ketika orang-orang memberikan selamat atas kesuksesanku, justru bimbang makin menggelombang. Ketika orang-orang berdecak kagum atas kemandirianku, justru galau menggebalau. Ketika berbagai penghargaan kuraih, justru resah makin merambah manah.
Di hadapan orang-orang senantiasa kusunggingkan senyum. Namun, senyumku hanya senyum semu. Senyum yang hanya sekadar untuk membahagiakan orang tua dan keluargaku. Senyum yang hanya sekadar untuk menghormati saudara dan tetangga. Senyum yang tak mampu menepis mendung yang merubung diriku sehingga langit hatiku yang kelabu mencerah biru.
Ada sesuatu yang kurang dalam hidupku sehingga kebahagiaanku terganjal di antara tumpukan keberhasilanku selama ini. Usiaku semakin mendekati senja bagi perempuan yang masih single. Angka kepala tiga sudah sekian lama kulewati. Bahkan kini, tinggal hitungan hari mendekati kepala empat. Namun, sampai detik ini, belum juga ada tanda-tanda seorang lelaki yang akan meminangku, untuk menjadi pendamping hidupku, untuk menjadi tambatan hatiku, tempat seluruh luruh perasaan kutumpahkan.
"Makanya jangan sok palah-pilih!"
"Iya, kalo palah-pilih jadi susah milih!"
"Akhir-akhirnya jadi susah dipilih!"
"Jodoh jadi sulit!"
"Kayak belut masuk lubang sempit!"
"Husss! Gak nyambung!"
"Biarin!"
Tidak jarang pula kudengar omongan orang banyak begitu habisan-habisan mengunjingku. Meskipun sungguh aku tidak pernah merasa sedikit pun berbuat seperti itu. Tidak pernah melakukan seperti yang mereka gunjingkan.
Namun, aku tak pernah sekalipun merespon, membalas, atau mengklarifikasi hal itu kepada mereka. Kurasa hal itu tak perlu. Hanya akan membuat gosip tak sedap tentang diriku kian semarak. Aku hanya instrospeksi dan menangis sendiri, merasakan apa yang kurasakan sendiri. Meski aku harus tenggelam dalam kesedihan yang kian hari kian mendalam.
Dalam kesedihan yang kian mendalam, sungguh! Aku begitu merindu janur kuning merunduk di ujung kanan pagar pintu halaman rumahku yang berdisain futuristik. Sejak diangkat menjadi Guru PNS dan memulai bisnis kuliner, sungguh! Enam belas musim berganti, aku jenuh menyaksikan aneka bunga yang mekar dan gugur di taman yang tak pernah lagi menentramkan.
"Iya, Enek doakan, biar Nyi Hana cepet dapet jodoh!" kata Nek Enok.
"Ganteng, gagah!" ucap Bah Otoy.
"Soleh lagi!" timpal Nek Enok.
"Bageur!" balas Bah Otoy.
"Cageur!" imbuh Nek Enok.
Terkadang aku merasa terhibur pula oleh omongan Bah Otoy dan Nek Enok setiap kali aku memesan leupeut dan bala-bala khas Dusun Cijolang. Omongan lugu, jenaka, dan tanpa tendensi pasangan suami istri 80 tahunan yang telah mengarungi samudera rumah tangga selama kemerdekaan Indonesia itu membuat bibirku memekarkan senyum.
Jika orang menyirami ragam tanam hias dan aneka bunga di pagi hari untuk penyegaran agar sebelum berangkat ke tempat pekerjaan pikirannya damai sedamai sepasang kupu-kupu yang bercengkrama di putik sunflower, namun pikiranku kacau karena sebelum berangkat kerja aku justru dilanda risau. Jika orang merawat tanaman hias dan aneka bunga di sore hari untuk refreshing melepaskan penat rutinitas yang mendera, justru perasaanku kian sumpek.
Saat-saat seperti ini aku begitu merindukan seseorang yang menegurku dengan kalimat renyah lemah lembut sepenuh perhatian.
"Biarlah, Aa yang menyirami tanaman hias dan aneka bunganya, Teh. Segeralah Teteh persiapan berangkat ke sekolah!"
Dan responku, senyum menyungging dari bibirku, lalu berkata tak kalah renyah lembah lembut disertai segenap tatap dari seluruh penjuru mata cinta.
"Terima kasih, A! Kalo gitu Teteh mandi duluan, ya!"
Kepada seseorang yang senantiasa menghiasi pagi dan sore hari taman dengan ketentraman aku menyerahkan selang penyiram tanaman hias dan aneka bunga semesra menyerahkan sayang penyiram perasaan cemas dan gundah gulana.
Ah, namun itu hanya angan yang kujalin dalam lingkaran impian. Hanyalah ilusi yang menghiasi imajinasi. Hanyalah utopi yang tak bertepi. Hanyalah cita yang tak tergoreskan pada coretan asa.
"Wusss!"
"Allohu Akbar!"
Aku dikagetkan sriti alit yang hanya beberapa senti meliuk di atas kerudung biru yang senada dengan warna seragam batik PNS spesial hari Kamis.
"Astaghfirullah!"
Jarum pendek jam dinding nyaris menyentuh angka 11. Pukul 13.54. Aku belum menunaikan Shalat Zhuhur. Sudah tiga hari aku tidak shalat di awal waktu. Menyia-nyiakan waktu fadhilah. Waktu fadhilah yang tak disia-siakan oleh para shahabat Nabi ShallAllohu 'alaihi wasallam dan ulama-ulama salaf terdahulu.
"Ya Alloh, Gustiii...!"
Kulangkahkan kakiku ke tempat wudhu yang sengaja kubangun khusus di pinggir kanan kolam pavilyunku setelah mendapat rapelan 18 bulan tunjangan profesi.
Kucuran air kran dan bekas wudhuku mengalir ke kolam mungil di mana teratai pavoritku memekarkan bunga ungu.
![]() |
| Photo by Tyler Callahan on Unsplash |

No comments:
Post a Comment