BEFORE AND AFTER
Pak Arif dan istrinya tengah bingung karena anak bungsunya, Hengky Tegar, sudah dua belas hari tidak pulang. Tidak ada kabar dan berita kemana Hengky pergi. Semua orang sudah ditanyai; mulai dari saudara dekat-saudara jauh, keluarga dekat-keluarga jauh, tetangga dekat-tetangga jauh, warga RT-warga RW, warga kelurahan-kecamatan-kotamadya, kru band, fans, reporter, presenter, host, sampai Mang Mi'ing yang tukang bajigur langganan Hengky. Namun, semua tidak tahu keberadaan Hengky.
Berita kehilangan pun disebarluaskan ke mana-mana. Poster iklan kehilangan ditempel di mana-mana. Foto-foto Hengky menyemaraki dinding-dinding kota. Namun, masih juga belum membuahkan hasil. HP Hengky yang biasanya aktif 24 jam, off, tidak bisa dihubungi oleh siapapun. Begitupun pihak kepolisian, belum juga menemukan titik terang pencarian.
Anak-anak 'Band Tegar', teman-teman band musik Hengky, pun tak terkecuali turut memeras otak dan menguras kalbu demi mencari keberadaan Hengky. Penelusuran terhadap diri Hengky dilakukan detik demi detik, menit demi menit, dan jam-demi jam. Penyisiran tempat-tempat di tengah, pinggir, dan luar kota dibuat begitu detil dan teliti sampai titik-titik lokasi tak terlewati.
Berkali-kali Bu Arif jatuh pingsan karena shock alias tak kuat memikirkan nasib Hengky yang tak kunjung pulang sampai detik terakhir. Apalagi banyak media cetak dan media elektronik yang mengabarkan peristiwa penyandraan, penculikan, penganiayaan, dan pembunuhan. Setiap ada kabar kematian seorang pemuda, sudah bisa dipastikan kontan Bu Arif semaput alias tak sadarkan diri.
Konsentrasi Pak Arif terpecah, antara mencari anaknya yang belum ditemukan dan mengurus istrinya yang drop karena kondisi batinnya terguncang hebat. Bu Arif tidak mau makan dan minum, tidak mau tidur, tidak mau istirahat; kerjaannya tiap detik hanyalah menangis dan menangis seraya menyebut-nyebut nama anaknya. Badannya semakin lemah, kondisinya kian payah. Keluarga, saudara, dan tetangga-tetangganya menyarankan supaya Bu Arif mengisi perut dan istirahat demi kesehatan dirinya, tetapi semua saran tidak digubris dan hanya membuatnya terus menangis.
Ujungnya, Bu Arif dilarikan ke rumah sakit. Di rumah sakit dokter putus asa menanganinya. Bukan hanya tidak mau makan, minum, tidur, dan istirahat, Bu Arif pun tidak mau diinfus dan dirawat isntensif. Di rumah sakit pun kondisi Bu Arif tidak ada perkembangan yang signifikan.
Anak-anak 'Band Tegar' kompak berbagi tugas. Sebagian mencari Hengky yang entah di mana rimbanya. Sebagian lagi menjenguk Bu Arif yang tergolek di bangsal rumah sakit. Menjunjung setia kawan, mereka bahu-membahu mengusung bersama pengorbanan. Jadwal latihan band amburadul. Sekian undangan show ditolak. Pentas yang telah terjadwal dipending. Apalagi Hengky adalah vokalis utama. Percuma pentas tanpa suara emasnya. Kaidah the show must go on pun gak berlaku!
Semua ikut bingung memikirkan kemana gerangan Hengky pergi? Apakah masih hidup alias masih tinggal di bumi? Berbagai postingan dan komen riuh di dunia online atau offline. Beragam prediksi menghias medsos-medsos. Ribuan atau bahkan jutaan pengguna aplikasi WA sibuk mencopas foto yang disertai iklan kehilangan Hengky. Lewat grup atau japri, hilangnya Hengky menguatkan tanda gejala budaya trendy: duka keluarga menjadi komoditi IT.
Ada pakar intrik politik nasional yang berpendapat bahwa Hengky direkrut suatu komplotan yang akan membuat makar kepada negara. Ada ahli subversi menganalisis sebuah kelompok tertentu sengaja mencuci otak Hengky untuk mengganti NKRI Harga Mati menjadi NKRI Harga Hidup. Ada pakar kriminal nasional yang membuat statemen bahwa Hengky dirampok, dibunuh, dan dibuang ke Samudera Hindia bersama pesawat MH370 Malayasia. Ada lagi paranormal nasional yang meramal bahwa Hengky direkrut komunitas roh jahat untuk mengacak-acak tatanan ketentraman Bangsa Nusantara. Ujung-ujungnya pernyataan pakar apapun terkesan absurd, abnormal, atau dengan kata lain: tidak masuk akal.
Di rumah Pak Arif pun mengundang ajengan-ajengan, ustadz-ustadz, santri-santri, sanak famili, saudara-saudara, dan para tetangga untuk mengadakan pengajian yasinan dan berdoa bersama agar mendapat petunjuk dan Hengky segera ditemukan dalam keadaan segar bugar atau sudah terbujur kaku. Intinya: yang penting Hengky segera ditemukan, hidup atau mati.
Tepat hari ke-13 masa Hengky hilang, siang hari sebuah motor vesva unique yang tidak yang asing lagi bersandar pada pagar halaman rumah Pak Arif. Itulah motor vesva --yang biaya modifnya lebih mahal daripada bangunan showroom motor bekas-- milik Hengky. Tiba-tiba Hengky muncul seakaan-akan baru turun dari Planet Saturnus ketika saudara-saudaranya merubung-rubung Bu Arif yang barus saja dibawa ke rumah atas saran dokter tersenior dan ternama kota karena menurutnya perawatann Bu Arif di rumah sakit hanya akan memperparah kondisi diri pasien, terlebih-lebih memparah kondisi ekonomi keluarganya.
Semua mata terbelalak melihat Hengky seolah-olah melihat pocong di siang bolong. Pasalnya, penampilan Hengky yang tidak pernah disangka tidak pernah dinyana. Penampilannya mencengangkan semua orang yang sedang memenuhi rumah Pak Arif yang sedang dirundung malang: Hengky hilang, Bu Arif kepayang.
Penampilan Hengky jauh dari bayangan orang tentang anak band yang selama ini identik dengan anak slengean. Hengky yang biasanya berjeans belel bolong-bolong, berkaos oblong hitam, berjaket kulit alegator, berambut gimbal-gondrong, hidung dan telinga ditindik anting-anting, wajah pias kurang darah, dan mata cekung sayu itu berdiri elegan di depan pintu gerbang halaman dengan penampilan bagaikan Derry Sulaiman siap tampil menyanyikan lagu Dunia Sementara Akhirat Selamanya (DSAS).
Hengky bercelana kurtah putih, berbaju gamis putih, berpeci putih, dan menenteng bedding putih. Melangkah sakinah menuju serambi rumah. Tidak sebiji pun mata yang yang tidak memicing ke arah pemuda yang mirip-mirip Rayhan teman duet Derry Sulaiman dalam hits Dari Hati ke Hati.
Bu Arif yang terbujur pada kasur yang digelar di ruang tengah perlahan-lahan bergerak, pelan-pelan bangkit, lalu berdiri, lari, menyeruak dari kerubungan orang, menghambur ke arah Hengky, dan memeluk anak kesayangannya seerat-eratnya. Airmata pun tumpah deras mengaliri lantai-lantai dan sudut-sudut rumah.
Bukan hanya Bu Arif, Pak Arif, adik-adik, keluarga, dan saudara Hengky; semua warga hampir satu RW menumpahkan airmata. Betapa tidak, anak yang selama ini telah memeras isi pikiran dan menguras sumber perasaan karena dikhawatirkan telah digondol bangsa siluman muncul dalam keadaan sehat wal afiat baik lahir maupun batin.
Kini Hengky, si anak hilang itu, telah kembali dengan selamat dan sehat walafiat. Semua poster iklan kehilangan telah dicabut dari dinding-dinding kota. Seluruh jajaran polisi yang tulus ikhlas tidak mau dibayar di titik-titik pencarian ditarik ke barak untuk menangani perkara berikutnya.
Aqeel, Pram, Revo, dan Bam kru 'Band Tegar' merencanakan show, bukan show manggung, tetapi show mengenakan busana muslim seperti Hengky Tegar. Langkah simpatik kru 'Band Tegar'pun diikuti oleh fans mereka. Akhirnya kru 'Band Tegar' dan fans di Hari Ahad yang Khidmad berjalan kaki menuju alun-alun dan kolam pancuran kota sambil mengenakan busana muslim seperti Hengky dan melaksanakan sujud syukur bersama. Terakhir, mereka mengadakan acara Testimoni Pengalaman Ruhani bersama Hengky Tegar dengan moderator Reza mantan drummer Noah.
Keluarga Pak Arif mengadakan acara slametan tujuh hari tujuh malam. Mengundang penceramah kondang. Mendatangkan Ustadz Sosmed. Menghadirkan Aa Gingin. Kebetulan penceramah kondang, Ustadz Solmed, dan Aa Gingin itu tetangga dan saudara dekat Bu Arif. Bergantian perceramah kondang, Ustadz Sosmed, dan Aa Gingin menyejukkan relung hati para mustami' atau tamu undangan dengan siraman ruhani.
Semua roman insan memancarkan kecerahan, turut merasakan kebahagiaan kedua orang tua dan keluarga Hengky. Namun, yang lebih berbahagia di antara semua orang sebetulnya adalah Hengky sendiri. Betapa tidak, hilangnya dan kembalinya dirinya ternyata membawa kebaikan yang tak terduga. Bibir Hengky pun menyunggingkan senyum syukur. Tiada terasa airmata telah memirigi pipinya yang bersih dari codet dan jerawat.
Sesungguhnya Hengky tidak hilang, apalagi hilangnya diisukan macam-macam. Bukan diculik komplotan licik. Bukan disandera gerombolan penjahat. Bukan direkrut militan yang akan merongrong pemerintah yang sah. Bukan digondol jin ifrit ke negeri liliput. Bukan dibunuh dan mayatnya dibuang ke laut dan bangkainya jadi santapan hiu ganas.
Hengky hilang bukan frustrasi ditinggal pacar yang cantiknya seribu cleopatra sejuta cinderella. Nyatanya Hengky Tegar termasuk vokalis band yang antik: vokalis yang alergi cewek dan phobi atau takut pacaran. MURI seharusnya bertanggung jawab memasukkan Hengky ke dalam Rekor Nasional: Vokalis Band yang Tak Pernah Pacaran.
Sebenarnya Hengky tidak hilang, melainkan sementara menghilangkan diri ke suatu tempat yang tenang, tentram, dan menyejukkan kalbu. Tempat mulia yang senantiasa dimuliakan. Tempat terhormat yang selalu dihormati. Tempat suci yang senantiasa disucikan.
Sepulang latihan ngeband, tatkala Hengky markir vesva unique-nya di mall dekat Alun-Alun Bandung, seakan iseng-iseng seseorang memanggilnya.
"Hengky...!"
Hengky tengak-tengok mencari arah suara lirih kecil yang memanggilnya. Suara lirih kecil, suara siapakah itu. Suara peri alun-alunkah? Suara ratu kolam pancurankah? Suara banci yang menyamar menjadi permaisurikah? Atau suara fans cewek yang akan menggoda hatinya?
"Hengky...!"
Seorang pria telah menjelma di bawah rumpun daun palem yang doyong sebab tidak kuat menahan tandan buahnya yang lebat dan berat.
"Siapa ya?" tanya Hengky dalam kreteg hati.
Pria itu pelan-pelan dan kalem menghampiri Hengky. Saat memulai langkah dia membaca Bismillah. Ketika melewati paping datar dia mengucap Alhamdulillah. Waktu melewati legokan paping dia melafadkan Subhanallah. Pada saat menaiki tangga mall untuk mendekati Hengky dia mengungkapkan Allahu Akbar.
Lutut Hengky nyaris mau copot. Betisnya hampir tidak mampu menopang. Sekujur tubuhnya bergetar. Persendiannya mendadak ngilu. Keduanya matanya melebar tak berkedip. Mulutnya membentuk hurup O alias melongo. Lidahnya kelu, tak terucap kata meski sepatah.
Lelaki serba putih; jubahnya putih, sarungnya putih, sorbannya putih, kacamatanya putih, pulpennya putih, pipinya putih, dan giginya putih itu mendekati Hengky seraya menyunggingkan senyum putih, senyum yang tulus ikhlas.
Hengky mau lari, tetapi apalah daya. Tiada daya tiada upaya. Lagian tangga Mall seperti merekat pada sepatu boot band-nya yang tinggi bak sepatu boot Cowboy Texas. Alas sepatu boot Hengky seperti dilem oleh lem ajaib, tidak bisa diangkat apalagi diajak lari.
"Hengky...!"
Cowok yang style-nya mirip ustadz muda tampan yang baru naik daun di dunia Panggung Acara Ramadhan itu menghampiri Hengky yang mematung bagai Liberty di atas muara Manhattan.
Degh!
Dada Hengky berdegub hebat.
Perlahan Pria itu melepas kaca mata putihnya. Bibirnya masih menyunggingkan senyum. Dahi Hengky berkerut, kedua alis tebalnya merapat, mengingat-ingat wajah pria yang kini tepat berada di depannya. Perasaan Hengky berangsur-angsur wajar. Barangkali karena pembawaan lembut dan santun pria tampan seperti umumnya jajaka priangan itu. Pria yang seakan-akan tiba-tiba dikirim angin ke hadapannya. Mata Hengky menjalari tubuh pria muda itu mulai dari atas ujung peci sampai tumit sandalnya yang mirip terompah Ali Baba.
Sekelebat nur menyelusup ke dalam benak Hengky. Samar-samar memorinya mengudar ingatan. Pikirannya mengurai kenangan. Pelan-pelan bibir Hengky yang kering-hitam mengulum senyum. Entah mengapa, dia pun menggeleng-gelengkan kepala saat menatap kian lekat pria yang perawakannya tidak lebih tinggi dari Sunu (mantan personil Matta Band), tidak lebih pendek dari Ray (mantan personil Nineball Band), dan tidak lebih gemuk daripada Derry Sulaiman (mantan personil Betrayer) yang membentuk Grup Medina yang fokus pada single religi.
"Fuad...?!"
Pria muda nan tampan itu tersenyum kemudian mengangguk elegan. Langkahnya semakin mendekat, merenggangkan jemari tangan kanannya, dan menyorongkannya. Seakan-akan dibimbing oleh kekuatan ghaib, pelan-pelan Hengky pun melakukan hal sama. Pria itu menyalami Hengky lantas memeluk Hengky seerat-eratnya.
"Hengky...?!"
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang pendek bagi keduanya. Fuad dan Hengky. Dua sohib karib kecil pun larut mengekspresikan rindu yang membuncah-buncah. Kemudian keduanya saling bertukar cerita. Saling menghadiahi kisah. Tak lupa saling mengungkapkan kenangan-kenangan silam berselang-seling pengalaman kiwari.
Sebua kisah indah yang terlalu manis untuk dilupakan senantiasa terkenang dalam hidup keduanya. Demi menyalurkan bakat dan ingin mendapatkan penghasilan sendiri serta tidak mau merepotkan orang tua; mereka nekad ngamen dari bus ke bus, dari kereta ke kereta, dari lampu merah ke lampu merah, dan dari pintu ke pintu dengan bekal gitar tanpa senar dan kecrekan tutup botol minuman. Kalau sudah ketahuan orang tua, baru keduanya berhenti, berlari, atau sembunyi.
Ngabuburit pake sepeda gunung sampai Gedung Sate. Keliling-keliling lapangan Gasibu. Nongkrong dekat Masjid Istiqomah. Akhirnya kemaghriban mampir di masjid dekat Gedung Sate yang menyediakan buka puasa gratisan. Itu pun tak luput mereka ceritakan kembali.
Terakhir, Fuad berkisah bahwa kini dia tengah mondok di sebuah pesantren di Provinsi Jawa Timur.
"Hengky, kayaknya aku harus pamitan nih, aku harus segera ke masjid!"
"Ke masjid?" tanya Hengky pilun.
"Kami lagi ada program di masjid. Tadi saya ada keperluan yang harus dibeli di sini!" ujar Fuad seusai memberikan kertas kecil nama dan alamat pondok pesantrennya kepada Hengky.
"Jadi kamu gak sendiri?"
"Ya."
"Program apaan tuh?"
Hengky heran.
"Pengajian dan itikaf."
"Pengajian dan itikaf?"
Hengky penasaran.
"Ikut?"
Fuad tersenyum.
Entah ada semacam kekuatan apa yang membuat Hengky spontan plus kontan mengikuti Fuad sahabat kecilnya itu seperti waktu dulu kalau Fuad bilang, 'Ikut?' pasti Hengky langsung mengiyakan, lalu berdua bareng-bareng ke sekolah, dolanan, ngamen, jalan-jalan, ngabuburit, atau melakukan aktivitas lain.
Hengky mengikuti Fuad ke sebuah masjid yang ternyata tidak jauh dari tempat pertemuan mereka.
"Fuad, vokalis 'Band Tegar' itu ternyata kawanmu!" kata Hudzaifah yang pernah belajar musik di Purwa Caraka Music Studi, Braga.
"Oya," respon Fuad datar.
"Salah satu band musik yang sekarang lagi viral kan 'Band Tegar'!" sambung Hudzaifah yang kedua matanya tak lepas memandang Hengky yang sedang memarkirkan motor vesva unique-nya di tempat parkir motor masjid.
"Aku masih hapal lagunya Hengky Tegar: Ketika Kembali ke Hati...!" ujar Harits nimbrung.
"Hengky Tegar itu temen SMP ato temen SMA, Mas Fuad?" lanjut Hudzaifah masih penasaran.
"Temen SMP," jawab Fuad.
Kening Hudzaifah dan Harits mengernyit, heran plus penasaran kepada Fuad yang punya teman vokalis beken dari grup tenar yang gebrakannya jadi viral di medsos, kok biasa-biasa saja. Kayak gak ngaruh gituh.
"Boleh ceritain dong, Mas, gimana masa lampaunya!" rayu Harits.
"Ah, nanti kamu tahu sendiri!" balas Fuad datar-datar saja.
Hari pertama, Hengky hanya mengirim chat kepada orang tuanya.
Ayah, Bunda, Hengky gak pulang dulu, jangan dicari ya, nanti pulang sendiri.
Awalnya Pak Arif dan Bu Arif mengira chat Hengky hanya main-main.
"Paling cari sensasi, Bun!" kata Pak Arif.
"Tapi, Pak?" ucap Bu Arif.
"Tapi apa, Bun?"
"Kok Hengky bilang: jangan dicari ya, nanti pulang sendiri!"
"Ya, itu cuma sensasi, Bun!"
Sesudah mengirim chat itu, Hengky langsung menonaktifkan HP-nya selama ikut Fuad dan teman-temannya yang berjumlah 11 orang, berarti 12 orang dengan Fuad. Semula Hengky menonaktifkan HP sekadar sungkan kepada Fuad dan teman-temannya yang tak seorang pun membuka HP mereka. Cerita demi cerita; ternyata jangankan buka HP, memang mereka tidak bawa HP.
"Bahkan kami gak punya HP, Kang Hengky!" kata Jabir ketika Hengky bertanya heran mengapa Fuad dan teman-teman sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan benda itu selama pengajian dan itikaf di masjid.
Selebihnya, Hengky memang ingin fokus mengikuti program rombongan Fuad dan teman-temannya yang ternyata dipimpin Mas Firdaus, alumnus Sastra Inggris UGM. Tidak seperti teman-temannya yang lain, sepatah pun Mas Firdaus hampir tidak bertanya tentang backgroud Hengky. Dia lebih fokus mengkoordinasi rombongan supaya bisa menjalankan program dengan maksimal.
Mas Fuad tuh serius dan cool. Namun, kalau sudah ngasih sharing, ilmunya luas banget, seluas Lautan Pasifik. Mas Firdaus itu, kata Fuad, baru pulang dari Nizamuddin, India. Semula dia sedikit berpikiran SA; setelah tabayun ke Nizamuddin, dia menjadi da'i sejati.
Entahlah, selama lebih sepuluh hari mengikuti program Fuad dan teman-temannya yang ternyata bukan hanya di satu masjid, tetapi juga dari satu masjid ke masjid lain. Ada taklim, baca Al-Qur'an, sharing iman amal shalih, ceramah maghrib dan shubuh, saling memberikan masukan tentang sunnah dan adab-adab sehari-hari, meningkatkan amalan dzikir, memperbanyak shalat-shalat sunnah, silaturrahim kepada masyarakat sekitar masjid, langsung mempraktikkan dalam kehidupan 24 jam, dan sebagainya.
Menyelusup ketenangan ke dalam relung batin Hengky yang selama ini memang kering, bahkan kerontang ruhani. Menjalar gairah untuk dakwah (mengajak) dan tabligh (menyampaikan) kebaikan kepada orang lain dengan niat islah diri (memperbaiki diri sendiri). Subhanallah!
Seperti ada taburan cahaya menembus ke setiap labirin hatinya sehingga yang terlihat Hengky adalah kebaikan demi kebaikan. Mungkin inilah yang disebut hidayah. Petunjuk untuk berbuat baik, meningkatkan amal kebaikan, memperbaiki diri sendiri, mengajak belajar berbuat kebaikan kepada orang lain, belajar taat kepada Alloh dan mencontoh kehidupan Rasulullah teladan umat Islam. Hengky betul-betul baru merasakan kenikmatan Islam yang sebenarnya.
Jujur saja, walaupun sudah lama menjadi orang Islam, tetapi kehidupan kita memang jauh dari Islami. Tumbuh kesadaran tersebut dalam diri Hengky. Kesadaran yang terkadang datangnya tidak disangka tidak dinyana.
"Kang Hengky harus pulang!" saran Mas Firdaus kepada Hengky yang semula ngotot ingin ikut jamaah yang akan pulang ke Jawa Timur.
"Insyaallah, Mas...!" jawab Hengky luluh dan mulai paham maksud nasihat Mas Firdaus.
"Selepas menemui Ayah Bunda, Kang Hengky bisa silaturrahim kepada keluarga, saudara, dan teman-teman...!"
"Insyaallah, Mas...!"
"Berceritalah kepada mereka tentang nikmat dan manfaat mengikuti program belajar keluar di jalan Alloh kepada mereka dengan santun, lembut, dan hikmah...!"
Hengky tidak tahu harus berucap apa kepada Fuad dan teman-temannya yang turut merasakan kehausannya dalam mereguk kenikmatan Islam. Sebelum pulang ke rumah, teman-teman Fuad memberikan kenang-kenangan kepada Hengky. Ada yang memberi tasbih, Al-Qur'an, sorban, baju gamis, peci, dan sajadah. Suatu kenangan indah. Dan kini Hengky telah bermetamorfosis menjelma Hengky baru yang berbalut baju Islami, berpeci, bersorban, megang tasbih, bibirnya senantiasa dibasahi dengan dzikrullah. Kontras dengan hengky sebelumnya sebagai anak band.
Kembali Pak Arif dan Bu Arif dikagetkan oleh anaknya, Hengky Tegar. Hengky, vokalis utama 'Band Tegar', band yang hits-hitsnya kian memviral di medsos-medsos.
Terbelalak mata Bu Arif.
"Apa?"
"Iya, Bun," kata Arif.
"Bunda gak salah dengar?" tanya Bu Arif.
"Hengky, coba ulangi perkataanmu!" tanya Pak Arif lebih pelan suaranya dari Bu Arif.
"Hengky ingin mesantren di Jawa Timur," jawab Hengky sambil tertunduk.
"Angin dari mana sampai kamu pengen mesantren?" ujar Bu Arif terkesan sinis.
Hengky menarik napas, dia berusaha untuk tidak sampai membrontak.
"Bukankah kamu vokalis band dan foto model juga?" ucap Bu Arif lagi.
"Hengky, penampilanmu sekarang aja udah bikin aneh. Nanti tambah aneh lagi kalo kamu mesantren segala!" susul Pak Arif.
"'Band Tegar yang kamu rintis dari nol mau kamu tinggalkan begitu saja? Kontrak-kontrak model iklan kamu batalkan secara sepihak? Aduh! Bunda jadi bingung!" imbuh Bu Arif.
"Namun, Ayah-Bunda, Ayah-Bunda senang kan Hengky jadi anak baik dan lebih baik daripada sebelumnya?" ujar Hengky balik bertanya.
Pak Arif dan Bu Arif seketika terdiam. Dalam lubuk terdalam hati keduanya mengiyakan pertanyaan anak tersayangnya. Memang tidak bisa dipungkiri, semenjak hilang tiga belas hari, muncul-muncul Hengky jadi anak penurut, perangainya lembut, mudah diatur, tidak banyak tingkah, gak suka ngomong ngelantur, tidak pernah begadang tanpa karuan, senangnya itikaf di masjid, tindak-tanduknya sopan, dan tutur katanya santun.
"Hengky ingin punya ilmu agama supaya nanti di akhirat bisa menolong Ayah dan Bunda masuk surga...!"
Pak Arif dan Bu Arif masih terdiam dan sesekali menarik napas pelan-pelan.
"Selama ini Hengky sudah banyak merepotkan Ayah-Bunda. Mulai dalam kandungan, katika lahir, sampai Hengky hidup di dunia. Hengky harus membalas semua kebaikan Ayah-Bunda...!"
Pak Arif dan Bu Arif mengangguk pelan.
"Dengan balasan yang terbaik, ... ."
Pak Arif dan Bu Arif terkesan makin serius menyimak setiap kata yang keluar dari bibir anaknya yang kini basah dengan dzikir.
"Yaitu, memasukkan Ayah dan Bunda ke dalam surga...!"
"Hmhmhm....!"
Pak Arif dan Bu Arif hanya bisa menarik napas.
"Ayah dan Bunda mau kan Hengky jadi anak shalih?"
Pertanyaan Hengky hanya dijawab dengan air mata Bunda yang tergetar hatinya mendengar apa yang baru saja dituturkan anaknya. Sementara Ayah hanya bisa menunduk mengiyakan dalam hati.
Pak Arif dan Bu Arif tidak bisa mengemukakan alasan untuk tidak mengizinkan Hengky mesantren di jawa Timur, menyusul sahabat karib kecilnya, Fuad, yang sudah lima tahun mondok di sana. Keberangkatan Hengky ke pondok pesantren menandai sejarah baru keluarga yang rata-rata mengenyam pendidikan tinggi di sekolah umum. Tekad bulat Hengky untuk menjadi seorang yang berilmu agama dan hapal Al-Qur'an adalah keinginan baja yang tak terpatahkan oleh siapapun.
Tanpa disadari, ada ketenangan yang menyelusup ke dalam hati sanubari Pak Arif dan Bu Arif tatkala mengantar Hengky dan melihat suasana pondok pesantren tempat anaknya menimba ilmu agama dan menghapal Al-Qur'an. Suasana keislaman yang lekat erat dalam diri para santri, ustadz-ustadz, dan penduduk di sekitar pondok menambah kekuatan dan kayakinan terhadap segala kebaikan yang akan diraih anaknya.
"Ayah-Bunda, doakan Hengky menjadi anak shalih, berhasil mempelajari ilmu agama, hapal Al-Qur'an, dan memasukkan Ayah dan Bunda ke dalam surga!"
Untaian kalimat perpisahan Hengky tatkala melepas kepulangan orang tuanya ke Bandung. Pak Arif berusaha menahan bulir airmata yang tinggal menetes. Sementara Bu Arif sudah terisak sebelum Hengky menyelesaikan kata-katanya.
Hari-hari Hengky begitu menikmati kehidupan pondok pesantren bersama sahabat karibnya, Fuad, dan teman-teman dari seluruh Indonesia bahkan dari mancanegara semisal Amirul dari Malaysia, Ismail dari Kamboja, Fudhail dari Thailand, Mubarok dari Filiphina, dan Zainul dari Laos.
Hari-hari Hengky dan teman-temannya menikmati lezatnya dzikir, shalat, shalawatan, menghapal Al-Qur'an, dakwah amar ma'ruf nahi munkar. Menikmati kebersamaan dalam suka dan duka. Menikmati ujian dan cobaan dengan belajar sabar seperti bumi dan tabah bagaikan unta.
Selama di pondok pesantren Hengky betul-betul menguatkan niatnya. Tekad ingin membahagiakan Ayah dan Bundanya dengan menjadikan dirinya sebagai seorang alim dan hafizh Qur'an. Ketelatenan dan kesabarannya telah membawa pengaruh luar biasa.
Fuad senang melihat perubahaan besar pada diri Hengky. Perhatiannya terhadap ilmu agama dan Al-Qur'an sangat tinggi dan sungguh-sungguh. Tak lupa pula dia sering menceritakan perihal temannya tersebut kepada Papanya yang sebulan sekali menengok dia dan adiknya Shofia Salsabila Permatasari yang sekarang hampir tamat program Minhaj 2 dan akan khatam kubro. Fuad sendiri sudah hampir empat tahun mengajar di Program Tahfizhul Qur'an dan menjadi Pengurus Program Dinsor (Diniyah Sore).
Perjuangan Hengky pun tidak sia-sia. Tahun lepas tahun Hengky lewati dengan setumpuk harapan, dengan segenap perasaan, dengan segudang cita, dengan seberkas doa, dengan selaut air mata. Hengky berhasil menyelesaikan pendidikannya. Al-Qur'an 30 juz pun khatam kubro'.
Sungguh Hengky wajib bersyukur atas nikmat yang Alloh berikan kepadanya. Pertama, nikmat taubat semenjak pertama diajak belajar oleh Fuad dan teman-temannya 10 tahun lalu. Kedua, nikmat setelah taubat ia diberi waktu oleh Alloh untuk belajar agama, khususnya belajar menghapal Al-Qur'an.
Diam-diam, di tengah hening malam, Hengky menatap foto-foto lamanya. Foto-foto masa dia menjadi anak band dan vokalis utama grup band. Kemudian diam-diam pula dia digandengkan dengan foto-fotonya masa kini setelah dia belajar di pondok pesantren.
Hengky menulis sebaris kalimat pada foto-foto itu: Hengky Befor, Hengky After.
"Subhanallohhh...!"
Hangky tidak sadar kedua pipinya telah dialiri buliran-buliran hangat. Hengky menggeleng-gelengkan kepala menatap lekat-lekat dirinya mengenakan jubah sambil mendekap Al-Qur'an yang telah dikhatamkannya. Khatam kubro tanpa kesalahan.
Sungguh, semua kehidupan ini hanyalah Alloh yang mengaturnya. Suasana dan keadaan pun Alloh yang membikinnya. Perasaan sedih, senang, bahagia, haru, takut, dan cemas itu perasaan yang diciptakan Alloh untuk menguji keimanan manusia. Sejauh mana manusia tetap taat dalam berbagai suasana dan keadaan.
Hengky sedang berbahagia menyambut wisuda pondoknya yang akan dilaksanakan akhir bulan ini di pondok pesantren tercinta dan akan dihadiri oleh orang-orang tercinta pula. Namun, suatu berita mengejutkan datang dari Tanah Pasundan. Bu Arif dalam keadaan kritis di rumah sakit. Beliau ingin bertemu dengan Hengky saat ini juga. Hati Hengky pun berselimut duka. Mulai naik ojek ke stasiun, begitu duduk di bangku Kereta Kahuripan, sampai ke tempat kelahiran, dan tiba di rumah sakit tempat bundanya dirawat dahulu karena shock sebab Hengky hilang selama hampir setengah bulan.
"Hengky...! Hengky...!"
Tak kuasa Hengky menyaksikan kondisi Bundanya yang lemah-lunglai. Wajah bundanya pucat, pipinya pias, bibirnya membiru. Slang-slang infus dan slang-slang oksigen bersilangan di antara badan bundanya. Hengky tak bisa menahan tetes air mata yang sudah bergelayutan di pelupuknya. Hengky merunduk dan menciumi Bundanya dengan seribu perasaan kasih sayang sekaligus sejuta perasaan penyesalan.
"Bunda....!" ujar Hengky di telinga kanan bundanya.
Mata sipit Bu Arif pelan-pelan sedikit terbuka. Ada kekuatan ghaib yang membuka kelopak matanya. Mengerjap-mengerjap. Kemudian kedua tangannya menggapai-gapai bahu Hengky. Seulas senyum merekah di bibirnya.
"Hengky....mau wisuda hapalan Qur'an...?"
Terbata-bata Bu Arif berbicara. Hengky mengangguk dan tak kuasa menahan hujan air mata. Air mata Bu Arif pun pelan-pelan menetes mengaliri pelipisnya yang sudah cekung. Sekian lama ia memang digerogoti penyakit jantung.
"Alhamdulillah.... Bunda ingin mendengar hapalan Al-Qur'anmu, Nak...!"
Masih terbata-bata Bu Arif berkata dan tersenyum menatap Hengky. Hengky ragu. Bunda mengangguk.
"Bunda perlu istirahat...!"
Bunda menggeleng.
"Sebelum Bunda istirahat, Bunda ingin mendengar hapalan Qur'anmu dulu, biar istirahat Bunda tenang...!"
Lirih Bunda memohon kepada Hengky yang perasaannya serba kalut. Gurat wajah yang memelas itu membuat Hengky tak sanggup untuk menolak permintaannya. Ada sebuah firasat dalam hati Hengky yang entah apa, tidak bisa ditafsirkan secara verbal.
"Silakan, Nak...!"
Hengky mengangguk pelan. Sendu bergelayut di tiang kalbu. Hengky mulai membaca ta'awudz. Syahdu. Menggetarkan pilar-pilar kalbu. Ayat demi ayat Al-Qur'an pun terlantun tartil dari bibir yang bergetar.
"Hapalan Qur'an ini buat Bunda...!" ujar Hengky menahan duka tiada tara.
Hengky mendekatkan kepalanya. Perlahan Bu Arif mencium kening Hengky. Bu Arif mengangguk pelan, menyunggingkan senyum, senyum yang asing, senyum yang selama hidupnya belum pernah dilihat Hengky. Bunda merapatkan kelopak matanya, tangannya tetap merangkul Hengky.
"Penjemput sudah datang membawa mahkota buat Bunda, terang sekali, terangnya melebihi sinar mentari, Nak!"
"Bunda....?!"
"Laaillaha illalloh Muhammadurrasululloh...!"
Tanah yang baru saja menutup jasad ibunya masih basah, sebasah manahnya.
Tiga belas hari selepas kepergian ibunya, Hengky kembali berangkat ke pesantren.
"Hengky, Papaku ingin berjumpa denganmu!" kata Fuad kepada Hengky di sela-sela santri lulusan Minhaj 2 yang antri mushofahah kepada Kyai.
"Papamu ingin berjumpa denganku?" tanya Hengky heran dan penasaran.
"Selepas mushofafah; Papa, aku, dan kamu nanti sowan Kyai!"
"Sowan Kyai?"
"Khatam Qur'an tanpa kesalahan, hapal Minhaj, hapal Kutubushittah: Shofia Salsabila Permatasari binti Maman Abdurrohman Ginanjar Bandung!"
Masih mengiang di gendang memori Hengky suara mimbar walah acara Wisuda Santri dan Pertemuan Wali Santri ketika Fuad menjawilnya sebelum sowan kepada Kyai.
"Papaku pengen kamu jadi adik iparku!" kata Fuad serius agak berbisik.
"Fuad, kamu jangan main-main!" ujar Hengky dengan wajah merah jambu.
No comments:
Post a Comment